Daily Archives: February 22, 2015

Tafsir Surat Al-Fatihah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

(QS.Al Fatihah[1]:1)

English: In the name of Allah, the Beneficent, the Merciful.

 

Para sahabat Rasul dan orang-orang yang mengikutinya, telah sepakat menetapkan “Basmalah” pada permulaan masing-masing surat dalam Al Qur’an, kecuali surat Baraa’ah. Khusus pada Surat Al Fatihah ini, maka Basmalah termasuk salah satu dari ayatnya. Allah SWT memulai pembukaan Al Qur’an dengan Basmalah, untuk mendidik dan mengajari para hamba-Nya membaca Basmalah bila hendak memulai suatu pekerjaan baik yang perlu mendapat perhatian. Daya upaya (kodrat) dengan mana manusia mampu berbuat, pada hakikatnya adalah karunia Allah. Manusia tidak akan mampu berbuat apa-apa bila Allah tidak mengaruniakan kodrat kepadanya. Oleh karena itu, bila manusia hendak berbuat sesuatu dengan kodratnya, seyogyanyalah ia memulainya dengan nama Allah, yakni Dzat yang mengaruniakan kodrat itu kepadanya.

Maka niatkan dengannya mencari berkah untuk permulaan membaca firman Allah SWT. Yang Maha Suci. Dan fahamilah maknanya bahwa seluruh urusan itu dengan Allah SWT. Dan kalau seluruh urusan itu dengan Allah SWT., maka pasti:

 

الْحَمْدُ للّهِ رَبِّ الْعَالَمِين

“َSegala puji milik Allah Tuhan semesta alam”.

(QS.Al Fatihah[1]:2)

English: All praise is due to Allah, the Lord of the Worlds.

Syukur itu milik Allah SWT,  sebab semua nikmat itu berasal dari-Nya. Dan barang siapa berpendapat bahwa nikmat itu dari selain Allah SWT atau syukurnya ia maksudkan untuk selain-Nya, bukan dikuasakan oleh-Nya, maka pembacaan Basmalah dan Hamdalah terdapat kekurangan dengan seukur menolehnya kepada selain Allah SWT.
الرَّحْمـنِ الرَّحِيمِ

“Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

 (QS.Al Fatihah[1]:3)

English: The Beneficent, the Merciful.

Maka hadirkanlah di dalam hati kita seluruh belas kasih-Nya agar jelas rahmat-Nya yang diberikan kepada kita, sehingga terbangkitlah rasa harap (raja’) karena-Nya. Kemudian kobarkanlah dari hati kita pengagungan dan takut dengan ucapan:

 

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

“Yang menguasai Hari Pembalasan (kiamat)”.

(QS.Al Fatihah[1]:4)

English: Master of the Day of Judgment.

Adapun keagungan, maka tiada yang memilikinya kecuali hanya Allah SWT. Dan adanya rasa takut, karena mara bahaya dan kekhawatiran di Hari Pembalasan dan Hisab, dimana Dialah Penguasanya. Kemudian perbaruilah keikhlasan dengan ucapan:

 

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkau pula kami memohon pertolongan”.

 (QS.Al Fatihah[1]:5)

English: Thee do we serve and Thee do we beseech for help.

Dan yakinkanlah bahwasanya ketaatan kita tidak mudah diwujudkan kecuali dengan pertolongan-Nya dan Dia mempunyai anugerah,  sebab Allah SWT telah memberi kita taufik untuk taat kepada-Nya, dijadikan diri kita berhidmah untuk beribadah kepada-Nya. Dan Dia telah menjadikan diri kita ahli bermunajat kepada-Nya: Seandainya Dia menghalangi kita dari taufik-Nya, maka termasuk golongan orang-orang yang dijauhkan dari rahmat bersama dengan syetan yang terkutuk.

 

اهدِنَــــا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ

“Tunjukilah kami menuju jalan yang lurus”.

(QS.Al Fatihah[1]:6)

English: Keep us on the right path.

Hidayah secara harfiah, berarti petunjuk yang dapat menyampaikan orang kepada yang dituju. Hidayah yang dimaksud di sini, ialah petunjuk Allah. Hidayah Allah kepada manusia antara lain sebagai berikut:

 

Hidayah Ilham:

Hidayah ilham ini sudah ada pada anak-anak sejak ia mulai dilahirkan. Bilamana ia ingat akan kebutuhannya (makanan misalnya), seketika itu juga ia menangis meminta makanan itu.

 

Hidayah Panca Indera.

Hidayah panca indera dan Hidayah ilham keduanya sama ada pada manusia dan hewan. Bahkan pada hewan lebih peka, jika dibandingkan dengan manusia, sebab ilham dan panca indera pada hewan sedikit sempurna setelah ia dilahirkan. Sedangkan pada manusia datangnya berangsur-angsur tahap demi tahap.

 

Hidayah Akal.

Hidayah akal ini lebih tinggi fungsinya dari hidayah ilham dan panca indera, sebab manusia diciptakan untuk hidup bersama dan bergaul dengan yang lain. Untuk kehidupan kehidupan semacam itu, tidak cukup hanya mengandalkan ilham dan panca indera saja, tapi ia memerlukan Hidayah akal. Akal dapat membetulkan kekeliruan-kekeliruan yang mungkin terjadi pada panca indera. Misalnya kekeliruan indera perasa pada orang yang menderita penyakit kuning.

 

Hidayah Agama dan Syari’at.

Hidayah agama ini, adalah nilai-nilai yang wajib dipunyai oleh orang yang akalnya sudah diperbudak oleh hawa nafsunya, sehinga ia tenggelam dalam kesenangan materi dan syahwati. Dalam kenyataannya manusia memang gemar menikmati kenikmatan duniawi yang tidak terbatas, tidak mau berhenti pada salah satu titik karena tidak dikehendaki oleh hawa nafsunya. Bahkan dibawah dorongan hawa nafsunya itu ia mempersiapkan dirinya untuk mencapai puncak kegemaran dan keinginan yang lebih sempurna lagi. Sehingga apabila ia telah mendapatkan sebuah bukit dari emas (misalnya), keinginannya tidak akan berakhir sampai disitu, sebab ia menginginkan sebuah (lebih banyak) lagi bukit emas. Tapi bila akal telah mampu mengalahkan hawa nafsu, semakin nyata bagi manusia mana yang bernama kejahatan yang berakibat buruk; baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain, dan mana pula yang bernama kebaikan yang bermanfa’at bagi dirinya dan masyarakat lingkungannya. Tuhan telah memberikan ilham kepada akal dan perasaan kepada ruh, bahwa kehidupan manusia yang tidak seberapa lama di dunia ini, bukanlah akhir dari kehidupannya yang hakiki. Sebab masih ada baginya kehidupan yang kedua setelah berakhirnya kehidupan yang pertama. Berpisahnya ruh dengan jasad sebagai akhir dari kehidupan yang pertama itu, tak ubahnya dengan burung yang terbang meninggalkan sangkarnya untuk kemudian hidup di alam lain dalam kehidupan babak terakhir yang sifatnya kekal dan abadi. Pada kehidupan yang kedua itu bagi manusia hanya ada salah satu dari dua kemungkinan: Hidup Bahagia dengan segala kenikmatannya, atau Hidup sengsara dengan segala macam siksa yang tidak terpikirkan. Sedangkan kemungkinan yang ketiga tidak ada. Di bagian lain akal dan pikiran kita belum dapat mencapai apa-apa yang terjadi di alam ghaib, sebab belum ada bukti-bukti yang dapat menuntun kita untuk mengetahuinya. Perasaan itulah yang merangsang ruh untuk merasakan kehidupan yang kekal dan abadi dan menyenangkan keadaannya bila ia telah sampai kesana. Yang menjadi persoalan baginya sekarang, ialah bagaimana caranya untuk mendapatkan petunjuk serta jalan mana yang harus ditempuh untuk memungkinkan ia sampai kesana, sedangkan kehidupan akherat yang dicari-cari itu adalah sesuatu yang ghaib, sedang dalilnya amat sukar sekali karena belum ada sesuatu sistim berpikir yang dapat menyampaikan seseorang untuk mengetahui bentuk-bentuk kebahagiaan maupun kesengsaraan yang akan ditemuinya dalam kehidupan akherat itu, tanpa diberikan kepadanya Hidayah yang dapat menembus rintangan guna menyingkapkan tabir dari kehidupan akhirat dan menerangkan situasi yang akan dialaminya setelah ruh berpisah dari jasadnya. Andaikan ada seseorang dengan ilmu dan akalnya hendak mencoba-coba membuat riset ilmiah sehubungan dengan kehidupan akherat itu, maka usahanya tidak akan membuahkan hasil apa-apa. Sebab hari akhirat itu akan diawali dengan kiamat, suatu malapetaka yang amat dahsyat dimana alam dunia dan tata surya akan binasa seluruhnya, sedang si pembuat riset akan terlibat langsung dalam kehancuran itu sebelum usahanya dimulai. Demikian sulitnya rahasia alam akhirat itu diselami, demikian sulitnya untuk diraba dan diterka, sehingga kita selalu dihadapkan kepada kebingungan. Dengan tidak adanya Hidayah agama dan syari’at, maka kebingungan itu akan berkembang terus menerus, sedang akal dan kecerdasan akan sia-sia seolah-olah tidak ada gunanya. Maka jelaslah betapa manusia membutuhkan Hidayah agama dan syari’at untuk melenyapkan kegelapan yang menutup akal  sehat mereka. Bukan itu saja! Di samping beberapa Hidayah yang telah disebutkan terdahulu, ada satu Hidayah lagi. Hidayah itu ialah taufiq dari pada Allah untuk dapat berjalan di atas jalan yang lurus. Jalan yang lurus itulah yang diperintahkan Allah kepada kita supaya dicari. Cara mencarinya ialah dengan jalan meminta langsung kepada Allah tanpa perantaraan apa dan bagaimanapun, supaya kita diberi pertolongan yang dapat menolong kita untuk tidak terjerumus ke dalam jurang kesesatan. Penganugerahan Hidayah taufik ini khusus wewenang Allah, tidak diserahkan kepada siapapun, walaupun Rasul SAW sendiri. Adapun Hidayah dengan pengertian: Memberi petunjuk kepada Jalan yang Lurus serta menjelaskan akibatnya berupa kebahagiaan, keberuntungan dan kemenangan, dan memberi pengertian supaya jangan menempuh jalan kesesatan serta menerangkan akibatnya berupa kesengsaraan dan siksaan, inilah perkara yang termasuk karunia Allah dalam batas-batas karunia yang diberikan kepada makhluk-Nya. Dan ini pulalah tugas risalah yang dibebankan kepada Rasul SAW. Untuk disampaikan. Setelah tugas itu disampaikan kepada manusia, terserah kepada manusianya; mau menerima silakan, mau menolak terserah. Sebab apakah orang akan mendapat Hidayah atau tidak, itu bukan urusan Muhammad, tapi wewenang Allah. Maka Jalan yang Lurus merupakan jumlah dari suatu sistim terpadu yang terdiri dari akidah, hukum-hukum, adab dan susila, syariat agama misalnya ilmu yang sah tentang Allah dan kenabian, keadaan Alam, dan tata pergaulan umum, yang mampu menyampaikan orang kepada kebahagiaan dunia dan akherat. Allah telah mengajarkan kepada kita pada ayat ini supaya meminta Hidayah taufiq langsung kepada-Nya, yang akan menolong kita mananggulangi pengaruh buruk dari hawa nafsu dan keinginan syahwati dan mengorbankan seluruh kemampuan untuk mengenal hukum-hukum syariat dan membebani diri kita agar selalu berjalan di atas sunah Allah dan Rasul supaya kita berhasil memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.

 

صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ

“yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai, dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat.”

(QS.Al Fatihah[1]:7)

English: The path of those upon whom Thou hast bestowed favors. Not (the path) of those upon whom Thy wrath is brought down, nor of those who go astray.

Yang menuntun kami ke sisi-Mu dan menyampaikan kami menuju ridha-Mu. Dan tambahkanlah dengan kelapangan, perincian, penguatan dan penyaksian atas orang-orang yang telah menerima limpahan nikmat petunjuk; yaitu para nabi, orang yang sangat jujur, orang yang mati syahid dan orang shalih, bukan orang-orang yang mendapat murka, yaitu orang-orang kafir, orang-orang yang menyimpang, Yahudi dan Nasrani, dan orang-orang yang membelot dari agama Islam.

 

10 Prinsip Ekonomi Syariah dan Penjelasannya

Ekonomi syariah merupakan salah satu jenis ekonomi yang menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman dalam semua aktivitas atau kegiatan perekonomian yang dilaksanakan. Munculnya ekonomi syariah merupakan respon dari kemajuan zaman yang begitu pesatnya hingga nilai-nilai keislaman mulai luntur khususnya dalam berniaga atau dalam kegiatan perekonomian. Saat ini sedang marak pertumbuhan ekonomi syariah, hampir semua lembaga ekonomi menerapkan sistem syariah dan lebel syariah di dalamnya. Seperti lembaga Bank konvensional yang muali membuka cabang Bank syariah, lembaga gadai syariah dan lainnya. Hal ini terjadi akibat ketertarikan para nasabah muslim ke lembaga yang berlebel syariah, karena mereka mulai ragu dengan sistem yang diterapkan di lembaga konvensional yang memiliki nilai-nilai yang tidak senada dengana ajaran islam. Dengan itu banyak nasabah yang beralih ke ekonomi syariah. (Baca juga : peran Bank syariah , Perbedaan Bank Konvensional dan Bank Syariah )

Tentu dalam ekonomi syariah memiliki beberapa landasan atau dasar hukum yang menopang dan mengawasi mereka dalam kinerjanya. Ada beberapa prinsip yang harus kita ketahui, yakni prinsip dasar dan prinsip-prinsip yang dikemukaka oleh para ahli. Untuk yang pertama kita akan membahas tentang prinsip-prinsip dasar yang dimiliki oleh ekonomi syariah : (Baca Juga: Ekonomi Syariah)

Prinsip-Prinsip Dasar Ekonomi Syariah

 

  1. Tauhid

Yang pertama adalah tauhid atau keimanan, yakni segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia merupakan sebuah wujud penghambaannya terhadap Allah SWT. Begitu juga dalam kegiatan perekonomian, baik individu maupun kelompok, serta pelaku ekonomi dan pemerintahan harus memegang erat prinsip ini agar perjalanan ekonomi sesuai dengan yang telah diajarkan dalam islam. Jadi pada dasarnya segala aktivitas perekponomian terutama ekonomi syariah harus mengacu pada ketauhidan terhadap Allah. Hal ini senada dengan friman Allah dalm AL-Qur’an yakni QS Ad-Dzariyat : 56, yang artinya :

“dan Aku tidak menciptakan jin dan manusiia melainkan supaya mereka beribadah dan mengabdi kepada-Ku.”

(Baca Juga: Prinsip Ekonomi Syariah Islam )

  1. Maslahah dan falah

Dalam islam, tujuan ekonomi yakni untuk kemaslahatan umat, jadi dengan adanya ekonomi diharapakan kehidupan masyarakat menjadi makmur dan sejahtera. Selain itu dengan adanya kegiatan ekonomi diharapkan mampu meningkatkan taraf kehidupannya lebih tinggi, hal ini sering disebut dengan falah. Arti kata falah bisa dilihat dari dua perspektif yakni dalam dimensi dunia dan dimensi akhirat. Dilihat dari dimensi dunia falah bisa diartikan sebagai keberlangsungan hidup, kebebasan dari segala bentuk kemiskinan, pembebasan dari segala kebodohan serta kepemilikan dari kekuatan dan sebuah keehormatan. Sedangkan jika dilihat dari segi akhirat falah diartikan sebagai sesuatu yang abadi dan mulia seperti hidup yang kekal abadi, kesejahteraan yang kekal serta kemuliaan yang abdi selamanya. (Baca juga : prinsip ekonomi dalam kehidupan sehari-hari , Cara Investasi Emas Untuk Pemula )

Sedangkan untuk maslahat yakni segala sesuatu yang membawa dan mendatangkan sebuah manfaat bagi semua orang. Jadi pada dasarnya segala aktivitas perekonomian tidak boleh mangandung sebuah hal yang dapat merugikan suatu pihak dalam aktivitasnya. Karena hal ini tidak sesuai dengan ajaran islam. (Baca juga : Tindakan Ekonomi Rasional)

  1. Khalifah

Mungkin kita bertanya-tanya mengapa khalifah menjadi salah satu prinsip yang harus dipegang oleh ekonomi syariah. Karena kita tahu sendiro bahwasannya yang menjalankan roda perekonomian adalah sumber daya manusia yang ada. Tentunya hal ini menjadi sorotan khusus, dimana manusia harus menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi ini. Dimana manusia harus menjaga dan memakmurkan bumi. Jadi bisa disimpulkan dalam menjalankan roda perekonomian maanusia harus memperhatikan segala aspek agar tidak menyeleweng dari nilai-nilai islamiyah. Segala bentuk kecurangan atau penipuan dan perbuatan negatif lainnya sungguh dilarang dalam ekonomi syariah, inilah poin penting prinsip khalifah yakni manusia harus benar-benar menerapkan nilai-nilai keislaman dalam menjalankan perekonomian dengan tujuan untuk memakmurkan kehidupan di dunia ini. (Baca Juga: Sumber Keuangan Perusahaan , Investasi Reksadana Syariah)

ads

  1. Al- amwal (harta)

Dalam ekonomi syariah kita mengenal dan memahami harta itu hanya sebagai titipan bukan kepemilikan yang sebenarnya, dalam islam harta yang kekal hanyalah miliki Allah SWT. Dalam hal ini manusia hanya mampu untuk mengolah, menikmatinya saja dan semua itu akan dipertanggungjawabkan oleh manusia itu sendiri. Hal ini muncul karena ingin merespon sistem konvensional yang mengatakan bahwasannya harta adalah kepemilikan absolut dan mutlak untuk individu itu sendiri tentu hal ini sangat bertolak belakang dengan ajaran islam. Untuk itulah dalam ekonomi syariah konsep yang diterapkan adalah harta dalam bentuk apapun berapapun jumlahnya hakikatnya semua itu hanya miliki Allah semata dan manusia hanya mendapat amanah dari Allah. (Baca Juga: Negara yang Menganut Sistem Ekonomi Liberal )

  1. Adl (keadilan)

Dalam perekonomian islam atau syariah, keadilan sangaat ditekankan dan telah menjadi kewajiban di setiap aktivitasnya. Keadilan disini diartikan sebagai perilaku dimana menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya. Diamana prinsip ekonomi harus menerapkan dan melayani semua masyarakat tanpa memandang apapun kaya atau miskin harus mendapatkan pelayanan yang baik. keadilan dalam ekonomi syariah diterapkan dengan tujuan agar semua masyarakat dari semua golongan merasakan kenyamanan dan kesamaan diantara satu dan lainnya.

  1. Ukhuwah (persaudaraan)

Ukhuwah atau persaudaraan merupakan salah satu tujuan atau misi adanya ekonomi syariah. Dimana segala aktivitas ekonomi dilakukan agar umat islam menyatu dalam koridor yang sama untuk mendapatkan sebuah kesejahteraan dan kemakmuran yang sama. Dalam ekonomi islam atau syariah sangat dianjurkan untuk bekerja sama atau selalu berjamaah dalam melakukan apapun, jangan samapi umat islam memiliki pandangan ingin sukses sendiri, ingin kaya sendiri. Namun yang benar kita harus selalu bersama ketika ada seseorang yang membutuhkan harus kita bantu dan begitu sebaliknya. Dengan hal ini maka ekonomi syariah menekankan pada sosial bukan individual, karena pada dasarnya manusia hidup di dunia ini dengan tujuan bermanfaat bagi manusia dan saling menjaga tali silaturrahmi. (Baca Juga: Prinsip Kegiatan Usaha Perbankan )

  1. Akhlaq (etika)

Akhlaq atau etika harus menjadi salah satu dasar pelaksanaan ekonomi islam atau syariah, etika yang sesuai dengan ajaran islam sangat diperlukan dalam segala aktivitas atau kegiatan ekonomi syariah. Perlu kita ketahui bhawasannya ekonomi syariah merupakan salah satu jenis ibadah di bidang muamallah. Maka dari itu setiap kegiatan ekonomi islam atau syariah harus dilandasi dengan etika-etika atau norma yang baik tentunya sesuai dengan ajaran islam, hal inilah yang menjadi perbedaan antara ekonomi syariah dan ekonomi konvensional. (Baca Juga: Manfaat Ekonomi Internasional)

  1. Ulil Amri (pemimpin)

Berbicara tentang ulul amri atau pemerintah pasti juga ada hubungannya dengan perekonomian, begitu juga pada ekonomi syariah. Dalam melaksanakan kegiatan perekonomian ekonomi syariah harus melibatkan pemerintah di dalamnya, selain itu ekonomi islam atau yang sering disebut dengan ekonomi syariah harus mentaati peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah selama itu tidak menyeleweng dengan ajaran atau nilai-nilai islam yang ada. Karena bagaimanapun yang memiliki kuasa atau hak ;lebih untuk mengatur jalannya perekonomian adalah pemerintah, baik buruknya perkembangan suatu negara disebabkan oleh pemerintahannya. Jadi bagaimanapun ekonomi syariah harus selalu melibatkan pemerintah dalam perjalanan ekonominya.

  1. Al-hurriyah dan al-Mas’uliyah

Al hurriyah berarti kebebasan dan al mas’uliyah diartikan sebagai tanggung jawab. Dua hal ini tidak bisa dipisahkan karena adanya kebebasan harus ada pertanggungjawaban yang baik. kita akan bahas satu per satu, al hurriyah atau kebebasan bisa dilihat dari dua perspektif yakni pendekatan teologis dan pendekatan ushul fiqh. Dilihat dari sisi teologis kebebasan diartikan bahwa manusia bisa bebas menentukan pilihannya baik itu hal yang baik dan hal yang buruk. hal ini ditentukan oleh akal yang dimiliki oleh manusia. Sedangkan dalam perspektif ushul fiqh kebebasan diartikan sebagai suatu kebebasan yang harus dibarengi dengan suatu pertanggungjawaban. Sedangkan untuk tanggung jawab itu tidak hanya di dunia namun juga di akhirat kelak. Inilah prinsip ekonomi syariah, manusia diberi kebebasan namun ada batasannya yakni harus dipertanggungjawabkan. Apapun yang terjadi dan sudah dilakukan harus mampu dipertanggungjawabkan. (Baca juga : contoh tindakan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari – tindakan ekonomi rasional)

  1. Berjamaah (Kerjasama)

Dalam ekonomi syariah kerjasama merupakan salah satu hal yang wajib dilakukan seperti layaknya sholat yang dilakukan secara berjamaah bisa mendapatkan pahala lebih yakni 27 derajat. Begitu juga dalam perekonomian ketika apapun dilakukan secara berjamaah maka nilai ibadah maupun nilai dalam hal harta akan semakin bertambah. Jadi dalam ekonomi syariah semua kegiatan dan aktivitas dilakukan secara berjamaah dengan niatan yang baik agar bisa menghasilkan output yang baik pula. (Baca juga : investasi reksadana syariah)

Itulah sedikit ulasan tentang prinsip-prinsip dasar yang ada dalam ekonomi syariah, prinsip ini didasarkan atas kajian-kajian islam yang telah dilaksankan dan hal ini bersifat universal. Selain prinsip dasar dalam artikel ini akabn kita bahas prinsip ekonomi syariah menurut beberapa ahli, antara lain :

Sponsors Link

 

  1. Menurut Sudarsono, pelaksanaan ekonomi syariah harus memperhatikan beberapa prinsip dibawah ini :
  • Segala sesuatu yang berkaitan dengan sumber daya yang ada dalam perekonomian harus selalu dipandang sebagai pemberian dari sang Illahi.
  • Kepemilikan pribadi dalam islam diakui namun dengan batasan-batasan tertentu.
  • Kerjasama atau jamaah menjadi penggerak utama dalam perjalanan ekonomi syariah.
  • Terjadinya akumulasi harta atau kepemilikan harta yang hanya dimiliki oleh segelintir orang saja tidak diperbolehkan dalam ekonomi syariah.
  • Kepemilikan masyarakan mendapat jaminan dari ekonomi syariah yang mana akan digunakan untuk kepentingan seluruh umat.
  • Pelaku ekonomi khsususnya orang muslim harus takut dengan hari akhir dan kuasa Allah SWT.
  • Jika harta telah memenuhi batasan atau sudah nisab wajib untuk di zakatkan. (Baca juga : sumber dana bank syariah)
  • Riba dalam bentuk apapun diharamkan dalam ekonomi syariah.
  1. Sedangkan menurut Zainudin Ali sistem ekonomi syariah harus memiliki pondasi kuat agar tetap bisa bertahan dan berkembang di era amodern ini, pondasi yang digunakan adalah prinsip-prinsip di bwah ini, antara lain :

Itulah beberapa informasi seputar prinsip-prinsip yang harus ada dalam ekonomi syariah, hal ini bertujuan agar perjalanan ekonomi syariah akan berkembang dan tetap sesuai dengan ajaran islam.

http://dosenekonomi.com/ilmu-ekonomi/ekonomi-syariah/prinsip-ekonomi-syariah-dan-penjelasannya

EKONOMI SYARIAH :: Pengertian Ekonomi Syariah Islam

 

 


Ekoonomi.com – Pengertian Ekonomi Syariah Islam – Hadir kembali kami dihadapan Anda dimana pada artikel kali ini admin akan share tentang Ekonomi Syariah Islam. Apa pengertian, Kelebihan dan Kekurangan serta penerapannya dalam kehidupan ekonomi di negara kita Indonesia. Sebelumnya kita sudah membahas Sistem Ekonomi Indonesia Setelah Order Baru.

Pertama-tama mari kita bahas terlebih dahulu apa itu sistem ekonomi syariah islam.

Pengertian Sistem Ekonomi Syariah Islam

Ringkasan Pasal 49 huruf i Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006,

Ekonomi Syariah adalah perbuatan atau kegiatan usaha yang dilakukan menurut prinsip syariah. 

Ekonomi Syariah merupakan ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi rakyat yang diilhami oleh nilai-nilai Islam.

Ekonomi syariah atau sistem ekonomi koperasi berbeda dari kapitalisme, sosialisme, maupun negara kesejahteraan (welfare  state).

 

Sistem ekonomi Islam atau ekonomi syariah adalah sistem ekonomi yang mandiri dan terlepas dari sistem  ekonomi  lainnya. Berbeda dari kapitalisme karena Islam menentangeksploitasi oleh pemilik modal terhadap buruh yang miskin, dan melarang penumpukan kekayaan.
Menurut http://id.wikipedia.org/wiki/Ekonomi_ syariah

Ekonomi dalam pandangan Islam merupakan tuntutan kehidupan sekaligus anjuran yang memiliki dimensi ibadah.
Jika kita membuka kembali Kamus KBBI, ekonomi dalah pengetahuan dan penyelidikan mengenai asas-asas penghasilan (produksi), pembagian (distribusi), pemakaian barang-barang serta kekayaan  (keuangan,  perindusrian,  perdagangan) atau urusan keuangan rumah-tangga.

Sedangkan syariah yang awalnya berarti jalan, terutama menuju sumber air,  namun berkembang penggunaannya dikalangan umat Islam dengan arti yang menyeluruh petunjuk Allah yang berkaitan dengan perbuatan manusia

Syariat adalah hukum agama (yang diamalkan menjadi perbuatan-perbuatan, upacara dan semua yang berkaitan dengan agama Islam).

Ekonomi Syariah adalah

Pengertian Ekonomi  Syariah Islam ialah segala aktivitas perekonomian yang berkaitan dengan produksi dan distribusi (baik barang maupun jasa yang bersifat material) antara perorangan atau badan hukum lainnya berdasarkan syariat Islam 

(http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php)

Ciri-Ciri Ekonomi Syariah

  1. Pengaturannya bersifat ketuhanan / ilahiyah (nizhamun rabbaniyyah);
  2. Kegiatan Ekonomi sebagai bagian dari al Islam secara keseluruhannya (jusunminal Islam as-syamil);
  3. Berdimensi aqidah atau keaqidahan (iqtishadun ’aqdiyyun),karena pada dasarnya terbit atau lahir dari aqidah Islamiyah (al-aqidah al-Islamiyyah);
  4. Berkarakter ta’abbudi (thabi’un  ta’abbudiyyun), karenanya penerapan aturan ekonomi Islam (al-iqtishad al-islami) adalah ibadah;
  5. Terkait erat dengan akhlak (murtabithun  bil-akhlaq).Tidak ada pemisahan antara kegiatan ekonomi dengan akhlak;
  6. Elastis / Fleksibel (al murunah) dalam arti dapat berkembang secara evolusi;
  7. Objektif (al-maudhu’iyyuh).Islam mengajarkan umatnya agar berlaku obejektif dalam melakukan aktifitas ekonomi;
  8. Memiliki target sasaran/tujuan yang lebih tinggi (al hadaf as sami), berbeda dengan  sistem  ekonomi  non  Islam / konvensional yang semata-mata mengejar kepuasan materi belaka (al rafahiyah al maddiyah);
  9. Perekonomian yang stabil atau kokoh (iqtisadun bina’un) dengan mengharamkan praktek bisnis   yang membahayakan umat manusia baik perorangan maupun kemasyarakatan seperti riba, penipuan dan khamar;
  10. Perekonomian yang berimbang (iqtisad mutawazin) antara kepentingan individu dan sosial, antara tuntutan kebutuhan duniawi dan pahala akhirat;
  11. Realistis (al waqtiyah).Dalam hal tertentu terjadi pengecualian dari ketentuan normal, seperti keadaan darurat membolehkan sesuatu yang dilarang;
  12. Harta kekayaan pada hakekatnya milik Allah SWT. Karenanya kepemilikan seseorang terhadap harta kekayaannya bersifat tidak mutlak. Siapapun tidak boleh semaunya menggunakan harta kekayaan dengan dalih bahwa harta kekayaan itu milik pribadinya;
  13. Memiliki kecakapan dalam mengelola harta kekayaan (tarsyid  istikhdam  al-mal). Para  pemilik harta perlu memiliki kecerdasan dalam mengelola atau mengatur harta.

 

Bentuk-Bentuk Usaha Ekonomi Syariah

  1. Bank syariah;
  2. Asuransi syariah;
  3. Reasuransi syariah;
  4. Reksadana syariah;
  5. Lembaga keuangan mikro syariah;
  6. Obligasi syariah dan surat berharga  berjangka menengah syariah;
  7. Sekuritas syariah;
  8. Pembiayaansyariah;
  9. Pegadaian syariah;
  10. Dana pensiun lembaga keuangan syariah;
  11. Bisnis syariah

(Sesuai dengan Pasal 49 huruf i UU No 3 Tahun 2006, dan berdasarkan SEMA No. 8 Tahun 2008 tentang Eksekusi Putusan Badan Arbitrase Syariah )

Sengketa Ekonomi Syariah

Sengketa dalam bidang ekonomi syariah adalah sengketa didalam pemenuhan hak dan kewajiban bagi pihak-pihak yang terikat dalam akad aktivitas ekonomi syariah (Roedjiono,1997: 2)

Cara Penyelesaiannya :

  1. Cara Damai (as-shulh)

    Ada tiga rukun yang harus dipenuhi dalam perjanjian perdamaian yang harus dilakukan oleh orang melakukan perdamaian,  yakni ijabqabuldan lafazd dari perjanjian damai tersebut.

    Jika ketiga hal ini sudah terpenuhi maka perjanjian itu telah berlangsung sebagaimana yang diharapkan. Dari perjanjian damai itu lahir suatu ikatan hukum, yang masing-masing pihak berkewajiban untuk melaksanakannya. Perlu diketahui bahwa perjanjian damai yang sudah disepakati itu tidak bisa dibatalkan secara sepihak. Jika ada pihak yang tidak menyetujui isi perjanjian itu, maka pembatalan perjanjian itu harus atas persetujuan kedua belah pihak (Sayyid Sabiq, 1997: 189).

  2. Secara Arbitrase (at-tahkim) atau Arbitrase Syariah

    Arbitrase merupakan suatu lembaga alternatif yang diselenggarakan oleh dan berdasarkan kehendak serta itikad baik dari pihak yang berselisih agar perselisihan mereka tersebut diselesaikan oleh hakim yang mereka tunjuk dan angkat sendiri, dengan pengertian bahwa putusan yang diambil oleh hakim tersebut merupakan putusan yang bersifat final dan mengikat kedua belah pihak untuk melaksanakannya (Gunawan Widjaja & Ahmad Yani,2001:16)
    Pelaksanaan arbitrase ini harus didasarkan pada Al Quran, Hadits, dan Ijma.

  3. Melalui Lembaga Peradilan (al-qadha) atau Pengadilan Agama

    Apabila para pihak bersengketa, tidak berhasil melakukan as-shulhatau at-tahkim,atau para pihak tidak mau melakukan kedua cara tersebut, maka salah satu pihak bisa mengajukan masalahnya ke Pengadilan Agama.

Tinjauan Pustaka :
http://digilib.unila.ac.id/9244/8/II.TINJAUAN.pdf

Demikian penjelasan mengenai Pengertian Ekonomi Syariah Islam, semoga memberi manfaat kepada kita semua.

http://www.ekoonomi.com/2016/08/pengertian-ekonomi-syariah.html

 

konsep dan fungsi uang menurut pemikiran Imam Al-Ghazali

Uang diciptakan dalam perekonomian dengan tujuan untuk melancarkan kegiatan tukaar menukar dan perdagangan. Maka uang didefinisikan sebagai benda-benda yang disetujui oleh masyarakat sebagai alat perantaraan untuk mengadakan tukar menukar atau perdagangan. Sejarah uang sangat berhubungan dengan sejarah peradaban manusia. Semenjak manusia memulai peradabannya dan keluar dari zaman batu, mereka telah menciptakan berbagai bentuk barang yang digunakan sebagai alat perantara dalam tukar menukar. Uraian tersebut secara ringkas menerangkan perkembangan bentuk uang sepanjang peradaban manusia.

Continue reading

Jika Negara Abai terhadap Kemaksiatan

SEMUA agama menentang kemaksiatan. Semua agama memberikan ancaman dahsyat terhadap para pelaku dan orang-orang yang menolerirnya, termasuk dalam hal ini negara.

Akumulasi dosa dan kemaksiatan dilakukan di dalam suatu negeri tidak hanya menghancurkan diri yang bersangkutan tetapi juga alam dan negara tempat mereka hidup secara kolektif juga ikut merasakan akibatnya, termasuk orang-orang yang baik-baik yang hidup di dalam komunitas tersebut.

Continue reading

MENGEVALUASI GERAKAN DA’WAH

Oleh: H. Syuhada Bahri

Dalam tulisan sebelumnya kita sudah memahami bahwa berdasarkan fakta dan data yang ada, keidupan kita sudah dapat dikatakan sedang berada di pinggir jurang kehancuran akibat menjamurnya kemunkaran dan kemaksiatan. Kita juga sudah memahami dan meyakini bahwa satu-satunya gerakan yang dapat menyelamatkan kehidupan dari kehancuran itu hanyalah gerakan da’wah.

Continue reading

PENGERTIAN, DAN FUNGSI-FUNGSI MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM

  1. Pendahuluan

Dalam pandangan ajaran Islam, segala sesuatu harus dilakukan secara rapi, benar, tertib, dan teratur. Proses-prosesnya harus diikuti dengan baik. Sesuatu tidak boleh dilakukan secara asal-asalan (Didin dan Hendri, 2003:1). Mulai dari urusan terkecil seperti mengatur urusan Rumah Tangga sampai dengan urusan terbesar seperti mengatur urusan sebuah negara semua itu diperlukan pengaturan yang baik, tepat dan terarah dalam bingkai sebuah manajemen agar tujuan yang hendak dicapai bisa diraih dan bisa selesai secara efisien dan efektif.

Continue reading