10 Prinsip Ekonomi Syariah dan Penjelasannya

Ekonomi syariah merupakan salah satu jenis ekonomi yang menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman dalam semua aktivitas atau kegiatan perekonomian yang dilaksanakan. Munculnya ekonomi syariah merupakan respon dari kemajuan zaman yang begitu pesatnya hingga nilai-nilai keislaman mulai luntur khususnya dalam berniaga atau dalam kegiatan perekonomian. Saat ini sedang marak pertumbuhan ekonomi syariah, hampir semua lembaga ekonomi menerapkan sistem syariah dan lebel syariah di dalamnya. Seperti lembaga Bank konvensional yang muali membuka cabang Bank syariah, lembaga gadai syariah dan lainnya. Hal ini terjadi akibat ketertarikan para nasabah muslim ke lembaga yang berlebel syariah, karena mereka mulai ragu dengan sistem yang diterapkan di lembaga konvensional yang memiliki nilai-nilai yang tidak senada dengana ajaran islam. Dengan itu banyak nasabah yang beralih ke ekonomi syariah. (Baca juga : peran Bank syariah , Perbedaan Bank Konvensional dan Bank Syariah )

Tentu dalam ekonomi syariah memiliki beberapa landasan atau dasar hukum yang menopang dan mengawasi mereka dalam kinerjanya. Ada beberapa prinsip yang harus kita ketahui, yakni prinsip dasar dan prinsip-prinsip yang dikemukaka oleh para ahli. Untuk yang pertama kita akan membahas tentang prinsip-prinsip dasar yang dimiliki oleh ekonomi syariah : (Baca Juga: Ekonomi Syariah)

Prinsip-Prinsip Dasar Ekonomi Syariah

 

  1. Tauhid

Yang pertama adalah tauhid atau keimanan, yakni segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia merupakan sebuah wujud penghambaannya terhadap Allah SWT. Begitu juga dalam kegiatan perekonomian, baik individu maupun kelompok, serta pelaku ekonomi dan pemerintahan harus memegang erat prinsip ini agar perjalanan ekonomi sesuai dengan yang telah diajarkan dalam islam. Jadi pada dasarnya segala aktivitas perekponomian terutama ekonomi syariah harus mengacu pada ketauhidan terhadap Allah. Hal ini senada dengan friman Allah dalm AL-Qur’an yakni QS Ad-Dzariyat : 56, yang artinya :

“dan Aku tidak menciptakan jin dan manusiia melainkan supaya mereka beribadah dan mengabdi kepada-Ku.”

(Baca Juga: Prinsip Ekonomi Syariah Islam )

  1. Maslahah dan falah

Dalam islam, tujuan ekonomi yakni untuk kemaslahatan umat, jadi dengan adanya ekonomi diharapakan kehidupan masyarakat menjadi makmur dan sejahtera. Selain itu dengan adanya kegiatan ekonomi diharapkan mampu meningkatkan taraf kehidupannya lebih tinggi, hal ini sering disebut dengan falah. Arti kata falah bisa dilihat dari dua perspektif yakni dalam dimensi dunia dan dimensi akhirat. Dilihat dari dimensi dunia falah bisa diartikan sebagai keberlangsungan hidup, kebebasan dari segala bentuk kemiskinan, pembebasan dari segala kebodohan serta kepemilikan dari kekuatan dan sebuah keehormatan. Sedangkan jika dilihat dari segi akhirat falah diartikan sebagai sesuatu yang abadi dan mulia seperti hidup yang kekal abadi, kesejahteraan yang kekal serta kemuliaan yang abdi selamanya. (Baca juga : prinsip ekonomi dalam kehidupan sehari-hari , Cara Investasi Emas Untuk Pemula )

Sedangkan untuk maslahat yakni segala sesuatu yang membawa dan mendatangkan sebuah manfaat bagi semua orang. Jadi pada dasarnya segala aktivitas perekonomian tidak boleh mangandung sebuah hal yang dapat merugikan suatu pihak dalam aktivitasnya. Karena hal ini tidak sesuai dengan ajaran islam. (Baca juga : Tindakan Ekonomi Rasional)

  1. Khalifah

Mungkin kita bertanya-tanya mengapa khalifah menjadi salah satu prinsip yang harus dipegang oleh ekonomi syariah. Karena kita tahu sendiro bahwasannya yang menjalankan roda perekonomian adalah sumber daya manusia yang ada. Tentunya hal ini menjadi sorotan khusus, dimana manusia harus menjalankan tugasnya sebagai khalifah di muka bumi ini. Dimana manusia harus menjaga dan memakmurkan bumi. Jadi bisa disimpulkan dalam menjalankan roda perekonomian maanusia harus memperhatikan segala aspek agar tidak menyeleweng dari nilai-nilai islamiyah. Segala bentuk kecurangan atau penipuan dan perbuatan negatif lainnya sungguh dilarang dalam ekonomi syariah, inilah poin penting prinsip khalifah yakni manusia harus benar-benar menerapkan nilai-nilai keislaman dalam menjalankan perekonomian dengan tujuan untuk memakmurkan kehidupan di dunia ini. (Baca Juga: Sumber Keuangan Perusahaan , Investasi Reksadana Syariah)

ads

  1. Al- amwal (harta)

Dalam ekonomi syariah kita mengenal dan memahami harta itu hanya sebagai titipan bukan kepemilikan yang sebenarnya, dalam islam harta yang kekal hanyalah miliki Allah SWT. Dalam hal ini manusia hanya mampu untuk mengolah, menikmatinya saja dan semua itu akan dipertanggungjawabkan oleh manusia itu sendiri. Hal ini muncul karena ingin merespon sistem konvensional yang mengatakan bahwasannya harta adalah kepemilikan absolut dan mutlak untuk individu itu sendiri tentu hal ini sangat bertolak belakang dengan ajaran islam. Untuk itulah dalam ekonomi syariah konsep yang diterapkan adalah harta dalam bentuk apapun berapapun jumlahnya hakikatnya semua itu hanya miliki Allah semata dan manusia hanya mendapat amanah dari Allah. (Baca Juga: Negara yang Menganut Sistem Ekonomi Liberal )

  1. Adl (keadilan)

Dalam perekonomian islam atau syariah, keadilan sangaat ditekankan dan telah menjadi kewajiban di setiap aktivitasnya. Keadilan disini diartikan sebagai perilaku dimana menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya. Diamana prinsip ekonomi harus menerapkan dan melayani semua masyarakat tanpa memandang apapun kaya atau miskin harus mendapatkan pelayanan yang baik. keadilan dalam ekonomi syariah diterapkan dengan tujuan agar semua masyarakat dari semua golongan merasakan kenyamanan dan kesamaan diantara satu dan lainnya.

  1. Ukhuwah (persaudaraan)

Ukhuwah atau persaudaraan merupakan salah satu tujuan atau misi adanya ekonomi syariah. Dimana segala aktivitas ekonomi dilakukan agar umat islam menyatu dalam koridor yang sama untuk mendapatkan sebuah kesejahteraan dan kemakmuran yang sama. Dalam ekonomi islam atau syariah sangat dianjurkan untuk bekerja sama atau selalu berjamaah dalam melakukan apapun, jangan samapi umat islam memiliki pandangan ingin sukses sendiri, ingin kaya sendiri. Namun yang benar kita harus selalu bersama ketika ada seseorang yang membutuhkan harus kita bantu dan begitu sebaliknya. Dengan hal ini maka ekonomi syariah menekankan pada sosial bukan individual, karena pada dasarnya manusia hidup di dunia ini dengan tujuan bermanfaat bagi manusia dan saling menjaga tali silaturrahmi. (Baca Juga: Prinsip Kegiatan Usaha Perbankan )

  1. Akhlaq (etika)

Akhlaq atau etika harus menjadi salah satu dasar pelaksanaan ekonomi islam atau syariah, etika yang sesuai dengan ajaran islam sangat diperlukan dalam segala aktivitas atau kegiatan ekonomi syariah. Perlu kita ketahui bhawasannya ekonomi syariah merupakan salah satu jenis ibadah di bidang muamallah. Maka dari itu setiap kegiatan ekonomi islam atau syariah harus dilandasi dengan etika-etika atau norma yang baik tentunya sesuai dengan ajaran islam, hal inilah yang menjadi perbedaan antara ekonomi syariah dan ekonomi konvensional. (Baca Juga: Manfaat Ekonomi Internasional)

  1. Ulil Amri (pemimpin)

Berbicara tentang ulul amri atau pemerintah pasti juga ada hubungannya dengan perekonomian, begitu juga pada ekonomi syariah. Dalam melaksanakan kegiatan perekonomian ekonomi syariah harus melibatkan pemerintah di dalamnya, selain itu ekonomi islam atau yang sering disebut dengan ekonomi syariah harus mentaati peraturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah selama itu tidak menyeleweng dengan ajaran atau nilai-nilai islam yang ada. Karena bagaimanapun yang memiliki kuasa atau hak ;lebih untuk mengatur jalannya perekonomian adalah pemerintah, baik buruknya perkembangan suatu negara disebabkan oleh pemerintahannya. Jadi bagaimanapun ekonomi syariah harus selalu melibatkan pemerintah dalam perjalanan ekonominya.

  1. Al-hurriyah dan al-Mas’uliyah

Al hurriyah berarti kebebasan dan al mas’uliyah diartikan sebagai tanggung jawab. Dua hal ini tidak bisa dipisahkan karena adanya kebebasan harus ada pertanggungjawaban yang baik. kita akan bahas satu per satu, al hurriyah atau kebebasan bisa dilihat dari dua perspektif yakni pendekatan teologis dan pendekatan ushul fiqh. Dilihat dari sisi teologis kebebasan diartikan bahwa manusia bisa bebas menentukan pilihannya baik itu hal yang baik dan hal yang buruk. hal ini ditentukan oleh akal yang dimiliki oleh manusia. Sedangkan dalam perspektif ushul fiqh kebebasan diartikan sebagai suatu kebebasan yang harus dibarengi dengan suatu pertanggungjawaban. Sedangkan untuk tanggung jawab itu tidak hanya di dunia namun juga di akhirat kelak. Inilah prinsip ekonomi syariah, manusia diberi kebebasan namun ada batasannya yakni harus dipertanggungjawabkan. Apapun yang terjadi dan sudah dilakukan harus mampu dipertanggungjawabkan. (Baca juga : contoh tindakan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari – tindakan ekonomi rasional)

  1. Berjamaah (Kerjasama)

Dalam ekonomi syariah kerjasama merupakan salah satu hal yang wajib dilakukan seperti layaknya sholat yang dilakukan secara berjamaah bisa mendapatkan pahala lebih yakni 27 derajat. Begitu juga dalam perekonomian ketika apapun dilakukan secara berjamaah maka nilai ibadah maupun nilai dalam hal harta akan semakin bertambah. Jadi dalam ekonomi syariah semua kegiatan dan aktivitas dilakukan secara berjamaah dengan niatan yang baik agar bisa menghasilkan output yang baik pula. (Baca juga : investasi reksadana syariah)

Itulah sedikit ulasan tentang prinsip-prinsip dasar yang ada dalam ekonomi syariah, prinsip ini didasarkan atas kajian-kajian islam yang telah dilaksankan dan hal ini bersifat universal. Selain prinsip dasar dalam artikel ini akabn kita bahas prinsip ekonomi syariah menurut beberapa ahli, antara lain :

Sponsors Link

 

  1. Menurut Sudarsono, pelaksanaan ekonomi syariah harus memperhatikan beberapa prinsip dibawah ini :
  • Segala sesuatu yang berkaitan dengan sumber daya yang ada dalam perekonomian harus selalu dipandang sebagai pemberian dari sang Illahi.
  • Kepemilikan pribadi dalam islam diakui namun dengan batasan-batasan tertentu.
  • Kerjasama atau jamaah menjadi penggerak utama dalam perjalanan ekonomi syariah.
  • Terjadinya akumulasi harta atau kepemilikan harta yang hanya dimiliki oleh segelintir orang saja tidak diperbolehkan dalam ekonomi syariah.
  • Kepemilikan masyarakan mendapat jaminan dari ekonomi syariah yang mana akan digunakan untuk kepentingan seluruh umat.
  • Pelaku ekonomi khsususnya orang muslim harus takut dengan hari akhir dan kuasa Allah SWT.
  • Jika harta telah memenuhi batasan atau sudah nisab wajib untuk di zakatkan. (Baca juga : sumber dana bank syariah)
  • Riba dalam bentuk apapun diharamkan dalam ekonomi syariah.
  1. Sedangkan menurut Zainudin Ali sistem ekonomi syariah harus memiliki pondasi kuat agar tetap bisa bertahan dan berkembang di era amodern ini, pondasi yang digunakan adalah prinsip-prinsip di bwah ini, antara lain :

Itulah beberapa informasi seputar prinsip-prinsip yang harus ada dalam ekonomi syariah, hal ini bertujuan agar perjalanan ekonomi syariah akan berkembang dan tetap sesuai dengan ajaran islam.

http://dosenekonomi.com/ilmu-ekonomi/ekonomi-syariah/prinsip-ekonomi-syariah-dan-penjelasannya

EKONOMI SYARIAH :: Pengertian Ekonomi Syariah Islam

 

 


Ekoonomi.com – Pengertian Ekonomi Syariah Islam – Hadir kembali kami dihadapan Anda dimana pada artikel kali ini admin akan share tentang Ekonomi Syariah Islam. Apa pengertian, Kelebihan dan Kekurangan serta penerapannya dalam kehidupan ekonomi di negara kita Indonesia. Sebelumnya kita sudah membahas Sistem Ekonomi Indonesia Setelah Order Baru.

Pertama-tama mari kita bahas terlebih dahulu apa itu sistem ekonomi syariah islam.

Pengertian Sistem Ekonomi Syariah Islam

Ringkasan Pasal 49 huruf i Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2006,

Ekonomi Syariah adalah perbuatan atau kegiatan usaha yang dilakukan menurut prinsip syariah. 

Ekonomi Syariah merupakan ilmu pengetahuan sosial yang mempelajari masalah-masalah ekonomi rakyat yang diilhami oleh nilai-nilai Islam.

Ekonomi syariah atau sistem ekonomi koperasi berbeda dari kapitalisme, sosialisme, maupun negara kesejahteraan (welfare  state).

 

Sistem ekonomi Islam atau ekonomi syariah adalah sistem ekonomi yang mandiri dan terlepas dari sistem  ekonomi  lainnya. Berbeda dari kapitalisme karena Islam menentangeksploitasi oleh pemilik modal terhadap buruh yang miskin, dan melarang penumpukan kekayaan.
Menurut http://id.wikipedia.org/wiki/Ekonomi_ syariah

Ekonomi dalam pandangan Islam merupakan tuntutan kehidupan sekaligus anjuran yang memiliki dimensi ibadah.
Jika kita membuka kembali Kamus KBBI, ekonomi dalah pengetahuan dan penyelidikan mengenai asas-asas penghasilan (produksi), pembagian (distribusi), pemakaian barang-barang serta kekayaan  (keuangan,  perindusrian,  perdagangan) atau urusan keuangan rumah-tangga.

Sedangkan syariah yang awalnya berarti jalan, terutama menuju sumber air,  namun berkembang penggunaannya dikalangan umat Islam dengan arti yang menyeluruh petunjuk Allah yang berkaitan dengan perbuatan manusia

Syariat adalah hukum agama (yang diamalkan menjadi perbuatan-perbuatan, upacara dan semua yang berkaitan dengan agama Islam).

Ekonomi Syariah adalah

Pengertian Ekonomi  Syariah Islam ialah segala aktivitas perekonomian yang berkaitan dengan produksi dan distribusi (baik barang maupun jasa yang bersifat material) antara perorangan atau badan hukum lainnya berdasarkan syariat Islam 

(http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php)

Ciri-Ciri Ekonomi Syariah

  1. Pengaturannya bersifat ketuhanan / ilahiyah (nizhamun rabbaniyyah);
  2. Kegiatan Ekonomi sebagai bagian dari al Islam secara keseluruhannya (jusunminal Islam as-syamil);
  3. Berdimensi aqidah atau keaqidahan (iqtishadun ’aqdiyyun),karena pada dasarnya terbit atau lahir dari aqidah Islamiyah (al-aqidah al-Islamiyyah);
  4. Berkarakter ta’abbudi (thabi’un  ta’abbudiyyun), karenanya penerapan aturan ekonomi Islam (al-iqtishad al-islami) adalah ibadah;
  5. Terkait erat dengan akhlak (murtabithun  bil-akhlaq).Tidak ada pemisahan antara kegiatan ekonomi dengan akhlak;
  6. Elastis / Fleksibel (al murunah) dalam arti dapat berkembang secara evolusi;
  7. Objektif (al-maudhu’iyyuh).Islam mengajarkan umatnya agar berlaku obejektif dalam melakukan aktifitas ekonomi;
  8. Memiliki target sasaran/tujuan yang lebih tinggi (al hadaf as sami), berbeda dengan  sistem  ekonomi  non  Islam / konvensional yang semata-mata mengejar kepuasan materi belaka (al rafahiyah al maddiyah);
  9. Perekonomian yang stabil atau kokoh (iqtisadun bina’un) dengan mengharamkan praktek bisnis   yang membahayakan umat manusia baik perorangan maupun kemasyarakatan seperti riba, penipuan dan khamar;
  10. Perekonomian yang berimbang (iqtisad mutawazin) antara kepentingan individu dan sosial, antara tuntutan kebutuhan duniawi dan pahala akhirat;
  11. Realistis (al waqtiyah).Dalam hal tertentu terjadi pengecualian dari ketentuan normal, seperti keadaan darurat membolehkan sesuatu yang dilarang;
  12. Harta kekayaan pada hakekatnya milik Allah SWT. Karenanya kepemilikan seseorang terhadap harta kekayaannya bersifat tidak mutlak. Siapapun tidak boleh semaunya menggunakan harta kekayaan dengan dalih bahwa harta kekayaan itu milik pribadinya;
  13. Memiliki kecakapan dalam mengelola harta kekayaan (tarsyid  istikhdam  al-mal). Para  pemilik harta perlu memiliki kecerdasan dalam mengelola atau mengatur harta.

 

Bentuk-Bentuk Usaha Ekonomi Syariah

  1. Bank syariah;
  2. Asuransi syariah;
  3. Reasuransi syariah;
  4. Reksadana syariah;
  5. Lembaga keuangan mikro syariah;
  6. Obligasi syariah dan surat berharga  berjangka menengah syariah;
  7. Sekuritas syariah;
  8. Pembiayaansyariah;
  9. Pegadaian syariah;
  10. Dana pensiun lembaga keuangan syariah;
  11. Bisnis syariah

(Sesuai dengan Pasal 49 huruf i UU No 3 Tahun 2006, dan berdasarkan SEMA No. 8 Tahun 2008 tentang Eksekusi Putusan Badan Arbitrase Syariah )

Sengketa Ekonomi Syariah

Sengketa dalam bidang ekonomi syariah adalah sengketa didalam pemenuhan hak dan kewajiban bagi pihak-pihak yang terikat dalam akad aktivitas ekonomi syariah (Roedjiono,1997: 2)

Cara Penyelesaiannya :

  1. Cara Damai (as-shulh)

    Ada tiga rukun yang harus dipenuhi dalam perjanjian perdamaian yang harus dilakukan oleh orang melakukan perdamaian,  yakni ijabqabuldan lafazd dari perjanjian damai tersebut.

    Jika ketiga hal ini sudah terpenuhi maka perjanjian itu telah berlangsung sebagaimana yang diharapkan. Dari perjanjian damai itu lahir suatu ikatan hukum, yang masing-masing pihak berkewajiban untuk melaksanakannya. Perlu diketahui bahwa perjanjian damai yang sudah disepakati itu tidak bisa dibatalkan secara sepihak. Jika ada pihak yang tidak menyetujui isi perjanjian itu, maka pembatalan perjanjian itu harus atas persetujuan kedua belah pihak (Sayyid Sabiq, 1997: 189).

  2. Secara Arbitrase (at-tahkim) atau Arbitrase Syariah

    Arbitrase merupakan suatu lembaga alternatif yang diselenggarakan oleh dan berdasarkan kehendak serta itikad baik dari pihak yang berselisih agar perselisihan mereka tersebut diselesaikan oleh hakim yang mereka tunjuk dan angkat sendiri, dengan pengertian bahwa putusan yang diambil oleh hakim tersebut merupakan putusan yang bersifat final dan mengikat kedua belah pihak untuk melaksanakannya (Gunawan Widjaja & Ahmad Yani,2001:16)
    Pelaksanaan arbitrase ini harus didasarkan pada Al Quran, Hadits, dan Ijma.

  3. Melalui Lembaga Peradilan (al-qadha) atau Pengadilan Agama

    Apabila para pihak bersengketa, tidak berhasil melakukan as-shulhatau at-tahkim,atau para pihak tidak mau melakukan kedua cara tersebut, maka salah satu pihak bisa mengajukan masalahnya ke Pengadilan Agama.

Tinjauan Pustaka :
http://digilib.unila.ac.id/9244/8/II.TINJAUAN.pdf

Demikian penjelasan mengenai Pengertian Ekonomi Syariah Islam, semoga memberi manfaat kepada kita semua.

http://www.ekoonomi.com/2016/08/pengertian-ekonomi-syariah.html

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s