MENGEVALUASI GERAKAN DA’WAH

Oleh: H. Syuhada Bahri

Dalam tulisan sebelumnya kita sudah memahami bahwa berdasarkan fakta dan data yang ada, keidupan kita sudah dapat dikatakan sedang berada di pinggir jurang kehancuran akibat menjamurnya kemunkaran dan kemaksiatan. Kita juga sudah memahami dan meyakini bahwa satu-satunya gerakan yang dapat menyelamatkan kehidupan dari kehancuran itu hanyalah gerakan da’wah.

Mengenai gerakan da’wah di Indonesia, sejarah mencatat bahwa gerakan da’wah yang paling bebas adalah gerakan da’wah di era reformasi. Kesimpulan ini didapat jika kita bandingkan dengan gerakan da’wah di masa lalu, baik di masa Orde Lama maupun di masa Orde Baru.

Di masa reformasi, gerakan da’wah bebas sebebas-bebasnya. Pengajian, ceramah, tabligh akbar bermunculan dimana-mana tanpa ada halangan dari pemerintah sedikitpun. Bahkan ceramah yang dihadiri oleh lebih dari satu juta orang pernah terjadi di era reformasi ini. Sebuah pemandangan yang belum pernah terjadi di era sebelumnya.

Hanya kita harus berhenti sejenak untuk melihat dan merenungkan realitas. Sebab di era da’wah yang begitu bebas ternyata kemunkaran dan kemaksiatan pun begitu bebas. Data-data kemunkaran dan kemaksiatan justru memperlihatkan tren naik di era reformasi ini. Data yang dilansir BNN misalnya, menyebutkan penyalahgunaan narkotika dan psikotropika tahun 2003  berjumlah 6.519 kasus. Sementara tahun 2007 meningkat hingga mencapai 20.669 kasus. Begitu juga dengan data pornografi. Pada tahun 2006, berdasarkan data Internet Pornography Statistic, Indonesia menempati peringkat ketujuh pengakses kata ”sex” di internet. Sementara menurut data Googletrends posisi Indonesia berada pada peringkat kelima pengakses situs porno ditahun 2007. Dan ditahun 2008 dan 2009 Indonesia berada diperingkat ketiga.

Yang perlu kita munculkan adalah pertanyaan, “Ada apa dengan da’wah kita?”. Sebab rumusnya adalah sebagaimana yang difirmankan Allah Swt dalam surat al-Isra ayat 81: ?

Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap

Dari ayat diatas rumus yang seharusnya adalah jika kebenaran datang maka kebathilan akan hancur. Tapi kenyataannya, yang hak terus disuarakan tapi yang bathil tak kunjung hilang. Bahkan kemunkaran dan kemaksiatan sekarang ini seperti mempermalukan da’wah kita. Ada apa dengan da’wah kita?, ini barangkali yang harus selalu menjadi renungan kita, kenapa da’wah di era reformasi yang begitu bebas ini tidak bisa menghilangkan kemunkaran dan kemaksiatan. Bahkan pertumbuhan kemunkaran dan kemaksiatan jauh lebih maju dibandingkan dengan perkembangan da’wah itu sendiri.

MEMAHAMI KONSEP DA’WAH

Untuk menjawab pertanyaan di atas, diperlukan perenungan terhadap da’wah yang selama ini telah kita lakukan. Perenungan itu bisa didapat dengan kembali menelaah konsep da’wah itu sendiri.

1. Memahami Arti dan Makna Da’wah.

Da’wah adalah kewajiban yang harus dilaksanakan dengan landasan ikhlas dan bertujuan mencari keridloan Allah Swt. Dengan demikian da’wah akan bernilai ibadah bagi pelakunya dan akan mengundang pertolongan Allah Swt.

Karena itu menurut Mohammad Natsir, da’wah adalah satu amal yang lahir karena adanya dorongan dari dalam, bukan karena adanya tarikan dari luar. Da’wah adalah satu amal yang tidak boleh mengenal berhenti dan tidak boleh terpaku dengan satu cara. Da’wah adalah satu amal yang bersifat bimbingan, bukan paksaan dan bukan doktrin.

Karena itu ketika da’wah sudah dijadikan sebagai pekerjaan, sebagai sumber penghasilan, maka da’wah pasti tidak lagi bernilai di sisi Allah Swt. dan pertolongan Allah Swt. pun akan hilang. Da’wah yang seperti itu tidak akan memiliki nilai bina (membangun) dan tidak akan bisa menghilangkan kemungkaran dan kemaksiatan.

2. Memahami Tujuan Da’wah.

Semua juru da’wah harus menyamakan tujuan da’wahnya agar gerak da’wah tertuju kepada satu titik yang sama. Tujuan da’wah adalah tertanamnya iman dan takwa dalam hati setiap orang Islam. Setiap juru da’wah harus mampu menanamkan keyakinan di dalam hatinya bahwa tidak mungkin akan lahir sebuah kehidupan yang aman, tenang, tentram, adil, dan sejahtera selama iman dan taqwa belum tertanam di dalam hati ummat. Selain itu setiap juru da’wah harus mampu mengkomunikasikan atau menda’wahkan nilai-nilai Islam secara baik sebagaimana Rasulullah Saw. dan para sahabat menyampaikannya.

Dengan tertanamnya iman dan taqwa dalam hati setiap ummat, pasti Allah akan memberikan kehidupan yang baik (Q. 16 : 97), akan memberikan penjagaan (Q. 22 : 38), akan memberikan pertolongan (Q. 30 : 47), akan memberikan kekuasaan (Q. 24 : 55), akan memberikan kekuatan (Q. 4 : 141), akan memberi jalan dari kesulitan (Q. 65 : 2), akan memberi rizki dari arah yang tidak diduga (Q. 65 : 3) dan akan memberi barokah dari langit dan bumi (Q. 7:96).

3. Memahami Materi Da’wah

Da’wah hendaknya dilaksanakan dengan penuh kesriusan. Paling kurang ada dua indikasi da’wah yang serius. Yaitu, adanya kerja keras dan adanya kerja cerdas. Kerja keras diwujudkan dalam bentuk mengerahkan seluruh kemampuan yang Allah berikan kepada kita dan memanfaatkan setiap momentum yang kita temui untuk berda’wah. Sementara kerja cerdas diwujudkan dalam bentuk adanya perencanaan da’wah yang komprehensif yang bisa melahirkan ummat yang cerdas dan membentengi ummat dan segala godaan yang akan merusak nilai-nilai keimanan ummat. Termasuk serius dalam berda’wah, jika materi da’wah yang diberikan hanya bersumber kepada al-Qur’an dan as-Sunnah dan difahaminya sebagaimana Rasulullah dan para sahabat memahaminya.

Ketika da’wah yang kita lakukan hanya sebatas kerja keras tapi tidak dibarengi dengan kerja cerdas, maka da’wah kita hanya bersifat reaktif terhadap kondisi, tapi tidak direncanakan dengan rapih. Da’wah kita hanya bersumber kepada pengalaman pribadi, tapi tidak bersumber kepada al-Qur’an dan as-Sunnah, jangan-jangan kita hanya kelelahan di tengah jalan, sementara tujuan yang ingin dicapai dalam da’wah hanya ada dalam angan-angan dan harapan. Na’udzu billah.

Karena itu untuk bisa melahirkan umat yang cerdas, yang mampu membedakan antara yang hak dan yang bathil, diperlukan da’wah yang sistemik dan berkesinambungan. Untuk itu da’wah memerlukan kurikulum dan silabi.

4. Mengorganisir Gerakan Da’wah.

Da’wah untuk mencapai tujuan, tidak mungkin dikerjakan sendiri atau oleh satu lembaga. Da’wah memerlukan banyak orang yang dirakit dan direkat dalam sebuah kafilah da’wah yang besar. Landasan yang harus kita pegang dalam kebersamaan itu adalah “ta’awun alal birri wat taqwa” (tolong menolong dalam kebaikan dan ketaqwaan).

Ketika da’wah yang begitu luas dikerjakan sendiri, baik dalam konteks perorangan maupun lembaga, kemudian yang satu dengan yang lain tidak saling bersinergi, maka akan sulit untuk sampai kepada terjadinya perubahan dalam kehidupan. Selain itu, tidak adanya kebersamaan di antara para pendukung da’wah, akan menyebabkan gerakan da’wah dengan mudah diadu domba oleh pihak yang tidak senang kepada Islam. Akhirnya, kita hanya besar dalam jumlah, tapi kecil dalam kekuatan. Na’udzu billah.

http://KholideFendi.Com

http://www.infaqclub.com/read/artikel/32/mengevaluasi-gerakan-dawah/#.VOphbi6V7_s

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s