KEWAJIBAN BELAJAR MENGAJAR

 

1. Latar Belakang

Aktivitas belajar sangat terkait dengan proses pencarian ilmu. Islam sangat menekankan terhadap pentingnya ilmu. Al-qur’an dan As-sunnah mengajak kaum muslimin untuk mencari dan mendapatkan ilmu, serta menempatkan orang-orang yang berpengetahuan pada derajat yang tinggi.

Kemampuan untuk belajar merupakan sebuah karunia Allah yang mampu membedakan manusia dangan makhluk yang lain. Allah menghadiahkan akal kepada manusia untuk mampu belajar dan menjadi pemimpin di dunia ini. Maka dari itu manusia diwajibkan untuk belajar dan mengajar.

Akan tetapi, terkadang seseorang membutuhkan dalil sebelum percaya dengan perintah kewajiban belajar mengajar. Karena itulah, penulis ingin membahas hadits tentang kewajiban belajar mengajar.

  1. Rumusan Masalah
  2. Apa pengertian belajar mengajar?
  3. Bagaimana teks hadits tentang kewajiban belajar mengajar?
  4. Bagaimana penjelasan tentang hadits kewajiban belajar mengajar?

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Pengertian

Arti kata belajar dalam buku Kamus Umum Bahasa Indonesia adalah berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu. Perwujudan dari berusaha adalah berupa kegiatan belajar.

Menurut Hintzman, belajar adalah suatu perubahan yang terjadi dalam diri manusia disebabkan oleh pengalaman yang dapat mempengaruhi tingkah laku manusia tersebut.[1]

Menurut Wittig, belajar ialah perubahan yang relatif menetap yang terjadi dalam segala macam/keseluruhan tingkah laku manusia sebagai hasil pengalaman.[2]

Belajar adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh individu dalam perubahan tingkah lakunya baik melalui latihan dan pengalaman yang menyangkut aspek kognitif, afektif dan psikomotor untuk memperoleh tujuan tertentu. Dikatakan belajar apabila membawa suatu perubahan pada individu yang belajar. Perubahan itu tidak hanya mengenai jumlah pengetahuan, melainkan juga dalam bentuk kecakapan, kebiasaan, sikap, pengertian, penghargaan, minat, penyesuaian diri.[3]

Hampir semua ahli telah mencoba merumuskan dan membuat tafsiran tentang “Belajar”. Seringkali pula perumusan dan tafsiran itu berbeda satu sama lain. Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman.

Menurut pengertian diatas, belajar adalah merupakan proses suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas daripada itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan, melainkan perubahan kelakuan. Ada juga yang mengatakan bahwa belajar adalah memperoleh pengetahuan, belajar adalah latihan-latihan pembentukan kebiasaan secara otomatis, dan seterusnya.

Secara rasional semua ilmu pengetahuan dapat diperoleh melalui belajar.  Maka, belajar adalah ”key term” (istilah kunci) yang paling vital dalam usaha pendidikan. Sehingga, tanpa belajar sesungguhnya tidak pernah ada pendidikan. Belajar adalah perubahan tingkah laku yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungannya. [4]

Sedangkan pengertian mengajar lebih identik kepada proses mengarahkan seseorang agar lebih baik. Al-Mawardi melarang seseorang mengajar dan mendidik atas dasar motif ekonomi. Akan tetapi menurutnya, seorang guru seharusnya selalu memiliki keikhlasan dan kesadaran akan pentingnya tugas, sehingga dengan kesadaran tersebut, ia akan terdorong untuk mencapai hasil yang maksimal.[5]

Titik tekan pendidikan menurut al-Ghazali terletak pada pendidikan agama dan moral. Untuk itu, syarat menjadi guru menurut al-Ghazali, selain cerdas dan sempurna akalnya, juga guru yang baik akhlaknya dan kuat fisiknya. Dengan kesempurnaan akal ia dapat memiliki berbagai ilmu pengetahuan secara mendalam, dan dengan akhlaknya yang baik ia dapat menjadi contoh dan teladan bagi para muridnya, dan dengan kuat fisiknya ia dapat melaksanakan tugas mengajar, mendidik dan mengarahkan anak-anak muridnya.[6]

Dalam QS At-Taubah Ayat 122, dijelaskan betapa pentingnya menuntut ilmu dan mengamalkannya.

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ

Yang artinya : Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

Status kewajiban juga dapat dirujuk melalui argument QS. Ali Imron Ayat 104, adapun dari hadis khotbah nabi pada haji wada’ juga dapat dijadikan argumen yang menunjukkan status fardlu ‘ain. Kata nabi “…hendaklah yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir”. Juga dalam hadis lain, Rasulullah menyuruh kaum beriman agar menyampaikan ajaran beliau (islam) kepada orang walaupun hanya satu ayat saja yang ia bisa. Sabda nabi : “…. sampaikan dariku walau satu ayat… bhalighu ‘anni walau ayatan”.  Dalam hadits lain lagi, tugas dakwah itu bahkan dikaitkan dengan keimanan seseorang. Setiap mukmin dituntut untuk berdakwah sebisanya, dengan kekuatan, ucapan, atau dengan hati saja.”[7]

 

  1. Teks Hadits
  2. Hadits Pertama

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ

Artinya : ”Mencari ilmu itu adalah wajib bagi setiap muslim laki-laki maupun muslim perempuan”. (HR. Ibnu Abdil Barr)

Hadits tersebut menjelaskan bahwa semua orang diwajibkan menuntut ilmu, entah itu bagi laki-laki maupun perempuan.

 

  1. Hadits Kedua

أُطْلُبِ الْعِلْمَ مِنَ الْمَهْدِ إِلَى الَّلحْدِ
Artinya : ”Carilah ilmu sejak dari buaian hingga ke liang lahat”. (Al Hadits)

Dalam Islam pendidikan tidak hanya dilaksanakan dalam batasan waktu tertentu saja, melainkan dilakukan sepanjang usia. Belajar dalam arti sebenarnya adalah sesuatu yang berlangsung sepanjang kehidupan seseorang. Dengan terus menerus belajar, seseorang tidak akan ketinggalan zaman dan dapat memperbaharui pengetahuannya, terutama bagi mereka yang sudah berusia lanjut. Dengan pengetahuan yang selalu diperbaharui ini, mereka tidak akan terasing dari generasi muda, mereka tidak akan menjadi pikun secara dini, dan tetap dapat memberikan sumbangannya bagi kehidupan di lingkungannya.

  1. Hadits Ketiga

مَنْ أَرَا دَالدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِا لْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَالْاآخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ، وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ
Artinya : ”Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa yang menghendaki kehidupan Akherat, maka wajib baginya memiliki ilmu, dan barang siapa menghendaki keduanya maka wajib baginya memiliki ilmu”. (HR. Turmudzi).

Hadits tersebut memberikan pembelajaran kepada kita umat Islam agar memiliki ilmu pengetahuan baik ilmu pengatahuan agama maupun ilmu pengetahuan umum. Ilmu pengetahuan merupakan bekal kita untuk hidup di dunia dan akhirat.

 

  1. Hadits Ke empat

مُعَلِّمُ النَّاسِ الْخَيْرَيَسْتَغْفِرُلَهُ كُلُّ شَىْءٍحَتَّى الْحُوْتِ (ابن عباس)

 

Orang yang mengajar kebaikan kepada manusia, segala sesuatu(ikan di laut) memohonkan ampunan untuknya. (H.R. Ibnu Abbas)

 

  1. Analisis

Islam memotivasi pemeluknya untuk selalu meningkatkan kualitas keilmuan dan pengetahuan. Tua atau muda, pria atau wanita, miskin atau kaya mendapatkan porsi sama dalam pandangan Islam dalam kewajiban untuk menuntut ilmu (pendidikan). Bukan hanya pengetahuan yang terkait urusan akhirat saja yang ditekankan oleh Islam, melainkan pengetahuan yang terkait dengan urusan dunia juga. Karena tidak mungkin manusia mencapai kebahagiaan hari kelak tanpa melalui jalan kehidupan dunia ini.

Dari pemaparan hadits pertama, yang berisikan maksud dimana kewajiban menuntut ilmu itu ditujukan atas setiap mukmin, baik mukmin laki-laki maupun perempuan. Hal tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa sangat pentingnya kehidupan di bumi harus disertai ilmu, baik ilmu politik, sosial, budaya dan yang paling penting ilmu keagamaan dimana ilmu agama kelak akan menghantarkan umat muslim ke surga dan ilmu agamalah yang menjadi simbolis pembeda antara manusia dan makhluk yang lainnya.

Jika kita melihat keluar, kehidupan di negara kita yang saat ini sangat memprihatinkan, hal tersebut dikarnakan generasi-generasi penerus bangsa yang kurang mampu  mengelola negara dengan baik dikarenakan kurangnya ilmu pendidikan dan sempitnya cakrawala pengetahuan, oleh sebab itu kita harus  membuka mata agar mau mencari ilmu sebanyak-banyaknya baik bagi muslim laki-laki maupun muslim perempuan.

Kewajiban belajar mengajar merupakan suatu tuntutan bagi manusia yang menginginkan suatu kehidupan yang layak sebagai implementasinya dalam memakmurkan dunia. Manusia yang sudah dibaiat oleh Tuhan sebagai khalifah agar senantiasa menjadi pemimpin dan bisa menjadi kemaslahatan bagi dirinya, orang lain dan alam sekitar. Dalam realitasnya, konsep belajar mengajar memang banyak mengambil dari konsep Barat. Dan tidak ada salahnya selama konsep tersebut baik dan bisa mengangkat harkat dan martabat manusia. Namun, alangkah lebih bijak ketika kita juga tahu bagaimana pandangan hadits tentang hal tersebut. Dan banyak teks-teks dalam hadits yang bisa kita jadikan landasan dalam praktek mengajar.

Untuk lebih tegas dalam hadis riwayat Husain ibn Ali di atas, Rasulullah saw. menggunakan kata-kata wajib, harus (farîdhah). Hal itu menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan itu memang benar-benar suatu hal penting dalam kehidupan manusia terutama orang yang beriman. Tanpa ilmu pengetahuan, seorang mukmin tidak dapat melaksanakan aktivitasnya dengan baik menurut ukuran ajaran Islam. Bila ada orang yang mengaku beriman tetapi tidak mau mencari ilmu, maka ia dipandang telah melakukan suatu pelanggaran, yaitu tidak mengindahkan perintah Allah dan Rasul-Nya. Akibatnya, tentu, mendapatkan kemurkaan Allah dan akhirnya akan masuk ke dalam neraka Allah. Karena begitu pentingnya ilmu pengetahuan itu, Rasulullah SAW. mewajibkan umatnya belajar.

Hal tersebut ditegaskan lagi dalam hadis kedua : ”Carilah ilmu sejak dari buaian hingga ke liang lahat”. Hadis tersebut memberikan pemahaman bahwa proses beklajar mengajar tidak ada batasan usia, mulai dari lahir manusia sudah  mendapatkan transefaran ilmu dari lingkungan sekitar hingga di akhir hayatnya.

Ilmu pengetahuan itu memudahkan orang menuju surga. Hal itu mudah dipahami karena dengan ilmu, seseorang mengetahui akidah yang benar, cara-cara beribadah dengan benar, dan bentuk-bentuk akhlak yang mulia. Selain itu, orang berilmu mengetahui pula hal-hal yang dapat merusak akidah tauhid, perkara-perkara yang merusak pahala ibadah, dan memahami pula sifat dan akhlak-akhlak jelek yang perlu dihindarinya. Semuanya itu akan membawanya ke surga di akhirat, bahkan kesejahteraan di dunia ini.

Dalam sebuah hadis disebutkan terdapat lima keutamaan orang menuntut ilmu, yaitu: (1) mendapat kemudahan untuk menuju surga, (2) disenangi oleh para malaikat, (3) dimohonkan ampun oleh makhluk Allah yang lain, (4) lebih utama daripada ahli ibadah, dan (5) menjadi pewaris Nabi.

Yang dimaksud dengan dimudahkan Allah baginya jalan menuju surga adalah ilmunya itu akan memberikan kemudahan kepadanya untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat menyebabkannya masuk surga. Karena ilmunya, seseorang itu mengetahui kewajiban yang harus dikerjakannya dan larangan-larangan yang harus dijauhinya. Ia memahami hal-hal yang dapat merusak akidah dan ibadahnya. Ilmu yang dimilikinya membuat ia dapat membedakan yang halal dari yang haram. Dengan demikian,  orang yang memiliki ilmu pengetahuan itu tidak merasa kesulitan untuk mengerjakan hal-hal yang dapat membawanya ke dalam surga.

Malaikat menghamparkan sayapnya karena senang kepada orang yang mencari ilmu. Malaikat telah mengetahui bahwa Allah sangat mengutamakan ilmu. Hal itu terbukti ketika mereka disuruh hormat kepada Adam setelah Adam menunjukkan kelebihan ilmunya kepada malaikat. Oleh sebab itu,  para malaikat merasa senang kepada orang-orang yang berilmu karena mereka dimuliakan oleh Allah.

Orang yang menuntut ilmu dimintakan ampun oleh makhluk-makhluk Allah yang lain. Ini merupakan ungkapan yang menunjukkan kesenangan Rasulullah SAW kepada para pencari ilmu. Ilmu itu sangat bermanfaat bagi alam semesta, baik manusia maupun bukan manusia. Dengan ilmu pengetahuan yang disertai iman, alam ini akan selalu terjaga dengan indah. Penjagaan dan pengelolaan alam ini dapat dilakukan dengan ilmu pengetahuan. Jadi, orang yang memiliki ilmu dan menggunakannya untuk kebaikan alam semesta merupakan orang mulia yang pantas didoakan oleh penghuni alam ini.

Orang berilmu pengetahuan lebih utama daripada ahli ibadah. Keutamaannya diumpamakan oleh Rasulullah SAW bagaikan kelebihan bulan pada malam purnama dari bintang. Keutamaan bulan malam purnama yaitu bercahaya yang membuat dirinya terang dan dapat pula menerangi yang lain. Sedangkan bintang kurang cahayanya dan itu hanya untuk dirinya sendiri. Sifat seperti itu terdapat pula pada orang yang berilmu pengetahuan dan ahli ibadah. Orang yang berilmu pengetahuan dapat menerangi dirinya sendiri dengan petunjuk dan dapat pula menerangi orang lain dengan pengajarannya. Dengan kata lain, orang ‘alim itu memberikan manfaat untuk dirinya dan dapat pula bermanfaat bagi orang lain.

Orang yang berilmu dikatakan sebagai pewaris Nabi. Ini merupakan penghormatan yang sangat tinggi. Warisan Nabi itu bukan harta dan fasilitas duniawi, melainkan ilmu. Mencari ilmu berarti berusaha untuk mendapatkan warisan beliau. Berbeda dari warisan harta, untuk mendapatkan warisan Nabi tidak dibatasi pada orang-orang tertentu. Siapa saja yang berminat dapat mewarisinya. Bahkan, Rasulullah SAW. menganjurkan agar umatnya mewarisi ilmu itu sebanyak-banyaknya.

Mengajar adalah proses memberikan ilmu pengetahuan kepada orang yang belum tahu. Hasilnya, orang yang belajar itu memiliki ilmu pengetahuan dan dapat dimanfaatkannya dalam menjalani kehidupannya, baik untuk urusan hidup duniawi maupun untuk urusan ukhrawi.

 

KEWAJIBAN BELAJAR DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN HADITS

By fathurrohman8685 on October 24, 2012

 

 

 

 

 

 

1 Vote

 

KEWAJIBAN BELAJAR

DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN HADITS

(Kajian Tafsir Tarbawi)

By: Muhammad Fathurrohman, M.Pd.I
(Guru Sang Dewo (SMPN 2 Pagerwojo) & Akademisi UIN Maliki Malang)

 

  1. Pengantar

Al-Qur’an merupakan salah satu wahyu yang berupa kitab suci yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad saw. Al-Qur’an yang berupa kalam Allah ini merupakan kitab atau wahyu yang istimewa dibandingkan dengan wahyu-wahyu yang lainnya. Bahkan salah satu keistimewaannya adalah tidak ada satu bacaan-pun sejak peradaban baca tulis dikenal lima ribu tahun yang lalu, yang dibaca baik oleh orang yang mengerti artinya, maupun oleh orang yang tidak mengerti artinya. Di samping itu, al-Qur’an merupakan sumber pokok ajaran Islam dan sebagai petunjuk ke jalan yang benar untuk totalitas umat manusia yang tujuan utamanya mengantarkan manusia kepada suatu kehidupan yang membahagiakannya untuk kehidupan sekarang dan juga esok di akhirat.

Abdurrahman Soleh Abdullah menjelaskan bahwa, al-Qur’an memberikan pandangan yang mengacu kepada kehidupan di dunia ini, maka asas-asas dasarnya harus memberi petunjuk kepada pendidikan Islam. Seseorang tidak mungkin dapat berbicara tentang pendidikan Islam bila tanpa mengambil al-Qur’an sebagai satu-satunya rujukan. Di samping itu juga Nashr Hamid Abu Zaid mengatakan bahwa “al-Qur’an adalah laut, pantainya adalah ilmu-ilmu kulit dan cangkang, dan kedalamannya adalah lapisan tertinggi dari ilmu-ilmu inti.” Maka dari itu, dalam al-Qur’an terdapat dorongan-dorongan atau motivasi agar manusia mencari ilmu atau memperdalam pengetahuannya.

Di samping al-Qur’an, hadits juga menguraikan mengenai perintah agar manusia selalu melakukan pendidikan dan menuntut ilmu untuk mengembangkan pengetahuannya. Banyak hadits yang menerangkan mengenai hal tersebut.

  1. Ayat-Ayat Kewajiban Menuntut Ilmu ditinjau dari Terjemahan DEPAG

Al-Qur’an tidak secara langsung mengutarakan tentang kewajiban mencari ilmu atau mengembangkan ilmu pengetahuan, namun ayat tersebut tersirat dalam beberapa ayat yang mengisyaratkan tentang hal itu. Dalam makalah ini penulis hanya mengambil beberapa sampel saja, karena tidak mungkin penulis membahas secara detail semua ayat tarbiyah. Berikut ini ayat yang menunjukkan kewajiban menuntut ilmu:

Q.S.al-Alaq/96:1-5

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)

Artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Q.S.al-Taubah/9:122

وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ (122)

Artinya: Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.

Q.S.al-Ghasyiyah/88:17-20

أَفَلَا يَنْظُرُونَ إِلَى الْإِبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ (17) وَإِلَى السَّمَاءِ كَيْفَ رُفِعَتْ (18) وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ (19) وَإِلَى الْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ (20)

Artinya: Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?

Apabila kita perhatikan, terjemahan DEPAG di atas, nampaknya tidak mengapresiasikan proses atau perintah menuntut ilmu kecuali ayat yang penulis eksplore pada bagian pertama dan kedua, dan itupun memerlukan pemikiran dan penghayatan yang lebih jeli lagi. Kita ambil contoh perintah bacalah, tentunya menunjukkan proses membaca yang harus dilakukan oleh seorang manusia. Kata yang mengilhami adanya kompetensi dalam ayat tersebut adalah kata iqra’. Kata iqra’ berasal dari kata qara’a pada mulanya berarti menghimpun. Kemudian lafadz tersebut diartikan dengan arti membaca. Namun sebagaimana konteks pada saat itu, Nabi dalam keadaan ummi, maka dari itu menurut penulis ini merupakan perintah kepada Nabi untuk membaca yang tersirat. Dan ini berimplikasi kepada seluruh manusia yaitu perintah mengembangkan ilmu pengetahuan.

Terlebih lagi pada ayat yang terdapat dalam surat al-Ghasiyah tersebut. Ayat tersebut hanya merupakan pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban, namun membutuhkan pemikiran. Kalau ahli bahasa tentunya dapat memahami bahwa pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban tersebut merupakan perintah  untuk berpikir dan selalu mengembangkan ilmu pengetahuan. Namun penguasaan ilmu pengetahuan tersebut harus dilandasi dengan niat yang benar, yaitu karena Allah. Tanpa niat karena Allah, maka apa yang dilakukan oleh pendidik tidak akan mempunyai arti apa-apa.

Maka dapat dikatakan jika dalam terjemahan Depag belum dapat dilihat langsung perintah atau kewajiban belajar atau menuntut ilmu, kecuali bagi orang-orang yang berpikir dan meneliti tentang al-Qur’an.

  1. Ayat-Ayat Kewajiban Menuntut Ilmu ditinjau dari Asbab al-Nuzul

Sedangkan Zuhdi dalam bukunya mengatakan asbab al-nuzul adalah semua yang disebabkan olehnya diturunkan suatu ayat/beberapa ayat yang mengandung sebabnya atau memberi jawaban terhadap sebabnya atau menerangkan hukumnya pada saat terjadinya peritiwa itu. Lebih lanjut Al-Zarqani, menyebutkan asbabun nuzul ialah sesuatu yang turun satu ayat atau beberapa ayat berbicara tentangnya (sesuatu itu) atau menjelaskan ketentuan-ketentuan hukum yang terjadi pada waktu terjadinya peristiwa tersebut.

Dalam pengetahuan kita tentang asbabun nuzul tentunya memiliki beberapa macam manfaat. Para ulama berpendapat manfaat mengetahui asbab al-nuzul, sebagaimana diuraikan oleh Baidan, antara lain:

  1. Menurut Al-Wahidi; seseorang tidak mungkin mengetahui tafsir ayat Al-Qur’an tanpa mengetahui kisahnya dan keterangan turunnya.
  2. Menurut Ibnu Taimiyah; bahwa mengetahui sebab turunnya ayat Al-Qur’an dapat menolong memahami ayat tersebut, karena sesungguhnya mengerti sebabnya dapat menghasilkan pengetahuan tentang akibatnya.
  3. Menurut Al-Suyuthi; bahwa sebagian ulama yang kesulitan memahami Al-Qur’an akan teratasi kesulitannya dengan mengetahui sebab turunnya ayat yang bersangkutan.

Ayat-ayat yang penulis eksplore di atas, ternyata bertepatan mempunyai asbab al-nuzul. Adapun perinciannya adalah sebagai berikut:

Q.S.al-Alaq: 1-5: “Yahya bin Bukhair meriwayatkan kepada kami, dia berkata Al-Lais telah meriwayatkan kepada kami dari Ibnu Syihab dari ‘Urwah ibn Zubair dari Aisyah Ummu al-Mukminin bahwa beliau berkata: Wahyu yang pertama kali diterima oleh Rasulullah SAW adalah berupa mimpi yang baik dalam tidur, Muka beliau tidak melihat di dalam mimpi itu melainkan datang bagaikan cahaya subuh. Setelah itu, beliau suka menyendiri. Beliau menyendiri di Gua Hira’ untuk beribadah beberapa malam di sana. Setelah itu beliau kembali ke rumah untuk mengambil bekal, lalu kembali lagi ke Gua Hira’ sampai datang kepadanya al-haq (kebenaran) ketika beliau masih berada di sana. Tak lama berselang, datang malaikat seraya berkata iqra’ aku menjawab (saya tidak bisa membaca) lalu malaikat merangkul dan memelukku sehingga aku kepayahan, kemudian ia melepaskanku dan berkata iqra’ , aku menjawab (saya tidak bisa membaca). Lalu ia merangkul dan memelukku lagi sampai aku kepayahan,, kemudian melepaskanku dan berkata iqra’,  aku menjawab (aku tidak bisa membaca). Lalu ia merangkul dan memelukku sampai aku kepayahan, kemudian melepaskanku untuk ketiga kalinya, lalu ia berkata:

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ  الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Setelah peristiwa yang mencekam itu. Rasulullah pulang ke rumah dalam keadaan gemetar, sehingga bagitu sampai di rumah beliau berkata kepada istrinya Khadijah: “selimuti aku, selimuti aku”. Maka ia menyelimutinya, sampai ketakutannya hilang, lalu beliau menceritakan kepada Khadijah kejadian yang menimpanya, dan berkata: “aku khawatir terhadap diriku”. Tanpa berpikir panjang, Khadijahpun berkata: “Sekali-kali tidak begitu, demi Allah, Allah tidak akan mengecewakan kamu selama-lamanya. Engkau akan menghubungkan sillaturrahmi, memikul tanggung jawab, mengusahakan yang belum ada, memuliakan tamu dan membela kebenaran”.

Dari riwayat di atas dapat diketahui bahwa ayat tersebut turun dengan didahului oleh mimpi yang benar (ru’ya al-Shalihah). Mimpi tersebut menurut al-Kasymiri, berfungsi sebagai pengingat dan pertanda bahwa ia tersebut dalam keadaan hatinya tidak tidur, yang itu semua merupakan seperempat puluh enam dari masa kenabian.

Q.S.al-Taubah: 122: Dikemukakan oleh Ibn Abi Hatim yang bersumber dari Ikrimah yang berkata, ketika diturunkannya ayat Q.S. al-Taubah:39 ada beberapa orang yang bertempat tinggal jauh dari kota yang tidak ikut berperang dan mereka mengajar kaumnya. Berkatalah orang-orang munafik: Sungguh ada beberapa orang di kampung-kampung itu yang tidak ikut berangkat perang, binasalah penghuni-penghuni kampung itu. Maka turun ayat ini yang membenarkan orang-orang yang tidak ikut berperang bersama Rasulullah tetapi mereka mendalami ilmu agama dan menyebarkannya kepada kaumnya.

Q.S.al-Ghasyiyah: 17-20: Dikemukakan oleh Ibn Jarir dan Ibn Abi Hatim yang bersumber dari Qatadah, berkata: ketika Allah menyifati apa yang ada dalam surga, orang-orang sesat merasa heran. Maka allah menurunkan ayat ini berkenaan dengan peristiwa itu, untuk menyuruh memperhatikan penciptaan unta sebagai suatu tanda kekuasaan dan keluhuran serta keajaiban ciptaan Allah.

Dari asbab al-Nuzul tersebut tampak, bahwa dalam surah al-Alaq terdapat langsung perintah membaca yang merupakan sarana pengembangan pengetahuan. Sedangkan dalam asbab al-nuzul pada ayat yang berikutnya terdapat cerita orang-orang yang tidak ikut berperang, namun melakukan pendalaman keilmuan atau kegiatan pembelajaran. Maka dalam ayat 122 surah al-Taubah ini, asbab al-nuzul sudah jelas menunjukkan hal tersebut.

Sedangkan pada asbab al-nuzul surah al-Ghasyiyah masih belum terdapat wacana yang jelas bahwa itu merupakan ayat yang menunjukkan kewajiban menuntut ilmu. Namun melalui interpretasi, maka dapat dinilai bahwa asbab al-nuzul itu menunjukkan perintah merenungkan ciptaan Allah atau membaca dalam arti yang luas.

  1. Ayat-Ayat Kewajiban Menuntut Ilmu ditinjau dari Kitab-Kitab Tafsir

Q.S. al-Alaq:

Qurtubi

اقرأ ما أنزل إليك من القرآن مفتتحاً باسم ربك ، وهو أن تذكر التسمية في ابتداء كل سورة . فمحل الباء من «باسم ربك»  النصب على الحال . وقيل : الباء بمعنى على ، أي اقرأ على اسم ربك . يقال : فعل كذا باسم الله ، وعلى اسم الله . وعلى هذا فالمقروء محذوف ، أي اقرأ القرآن ، وافتتحه باسم الله . وقال قوم : اسم ربك هو القرآن

Menurut al-Qurtubi, maksud dari kata iqra’ disini adalah bacalah al-Qur’an dengan dimulai membaca bismillah pada setiap surahnya.

Thabari

يعني جل ثناؤه بقوله:( اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ ) محمدا صلى الله عليه وسلم يقول: اقرأ يا محمد بذكر ربك( الَّذِي خَلَقَ ) ثم بين الذي خلق

Yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah bacalah hai Muhammad dengan menyebut nama Tuhanmu.

Ibn Katsir

قال الإمام أحمد: حدثنا عبد الرزاق، حدثنا مَعْمَر، عن الزهري، عن عُرْوَة، عن عائشة قالت: أول ما بدئ به رسول الله صلى الله عليه وسلم من الوحي الرؤيا الصادقة في النوم، فكان لا يرى رؤيا إلا جاءت مثل فَلَق الصبح. ثم حُبب إليه الخلاء، فكان يأتي حراء فيتحنث فيه -وهو: التعبد-الليالي ذواتَ العدد، ويتزود لذلك ثم يرجع إلى خديجة فَتُزَوِّد (1) لمثلها حتى فَجَأه الحق وهو في غار حراء، فجاءه الملك فيه فقال: اقرأ. قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “فقلت: ما أنا بقارئ” . قال: “فأخذني فَغَطَّني حتى بلغ مني الجهد ثم أرسلني، فقال: اقرأ. فقلت: ما أنا بقارئ. فَغَطَّني الثانية حتى بلغ مني الجهد، ثم أرسلني فقال: اقرأ. فقلت: ما أنا بقارئ. فغطني الثالثة حتى بلغ مني الجهد، ثم أرسلني فقال: { اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ } حتى بلغ: { مَا لَمْ يَعْلَمْ } قال: فرجع بها تَرجُف بَوادره (2) حتى دخل على خديجة فقال: “زملوني زملوني” . فزملوه حتى ذهب عنه الرَّوْع. فقال: يا خديجة، ما لي: فأخبرها الخبر وقال: “قد خشيت علي”. فقالت له: كلا أبشر فوالله لا يخزيك الله أبدا؛ إنك لتصل الرحم، وتصدُق الحديث، وتحمل الكَلَّ، وتقري الضيف، وتعين على نوائب الحق. ثم انطلقت به خديجة حتى أتت به وَرَقة بن نوفل بن أسَد بن عبد العُزى ابن قُصي -وهو ابن عم خديجة، أخي أبيها، وكان امرأ تنصر في الجاهلية، وكان يكتب الكتاب العربي، وكتب بالعربية من الإنجيل (3) ما شاء الله أن يكتب، وكان شيخًا كبيرًا قد عَميَ -فقالت خديجة: أيّ ابن عم، اسمع من ابن أخيك. فقال ورقة: ابنَ أخي، ما ترى؟ فأخبره رسول الله صلى الله عليه وسلم ما رأى، فقال ورقة: هذا الناموس الذي أنزل على موسى (4) ليتني (5) فيها جَذعا أكونُ حيا حين يخرجك قومك. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “أومخرجيَّ هُم؟” . فقال ورقة: نعم، لم يأت رجل قط بما جئت به (6) إلا عودي، وإن يُدركني يومك أنصُرْكَ نصرًا مُؤزرًا. [ثم] (7) لم ينشَب وَرَقة أن تُوُفِّي، وفَتَر الوحي فترة حتى حَزن رسول الله صلى الله عليه وسلم -فيما بلغنا-حزنًا غدا منه مرارا كي يَتَردى من رءوس شَوَاهق الجبال، فكلما أوفى بذروة جبل لكي يلقي نفسه منه، تبدى له

Ibn Katsir menyebutkan mengenai asbab al-nuzul ayat tersebut.

Jalalain

{ اقرأ } أوجد القراءة مبتدئا { باسم رَبِّكَ الذى خَلَقَ } الخلائق .

Bacalah dimulai dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan makhluk.

Q.S. al-Taubah:

Qurtubi

وَمَا كَانَ المؤمنون } وهي أن الجهاد ليس على الأعيان وأنه فرض كفاية كما تقدّم؛ إذ لو نفر الكل لضاع مَن وراءهم من العيال ، فليخرج فريق منهم للجهاد ولْيُقِم فريق يتفقهون في الدين ويحفظون الحريم ، حتى إذا عاد النافرون أعلمهم المقيمون ما تعلّموه من أحكام الشرع ، وما تجدّد نزوله على النبيّ صلى الله عليه وسلم. وهذه الآية ناسخة لقوله تعالى : { إِلاَّ تَنفِرُواْ } وللآية التي قبلها؛ على قول مجاهد وابن زيد.

الثانية هذه الآية أصل في وجوب طلب العلم؛ لأن المعنى : وما كان المؤمنون لينفروا كافَّةً والنبيُّ صلى الله عليه وسلم مقيم لا يَنْفر فيتركوه وحده . { فَلَوْلاَ نَفَرَ } بعد ما علموا أن النفير لا يسع جميعهم . { مِن كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ } وتبقى بقيّتها مع النبيّ صلى الله عليه وسلم ليتحملوا عنه الدين ويتفقهوا؛ فإذا رجع النافرون إليهم أخبروهم بما سمعوا وعلموه . وفي هذا إيجاب التفقه في الكتاب والسنة ، وأنه على الكفاية دون الأعيان . ويدل عليه أيضاً قوله تعالى : { فاسألوا أَهْلَ الذكر إِن كُنْتُم لاَ تَعْلَمُونَ } [ النحل : 43 ] [ الأنبياء : 7 ] . فدخل في هذا من لا يعلم الكتاب والسنن .

Pada intinya jihad adalah fardhu kifayah maka orang yang tidak ikut berjihad diwajibkan untuk menuntut ilmu.

Thabari

(وما كان المؤمنون لينفروا كافة) ، يقول: ما كان المؤمنون لينفروا جميعًا، ويتركوا النبي صلى الله عليه وسلم وحده =(فلولا نفر من كل فرقة منهم طائفة) ، يعني عصبة، يعني السرايا، ولا يتَسرَّوا إلا بإذنه، فإذا رجعت السرايا وقد نزل بعدهم قرآن، تعلمه القاعدون من النبي صلى الله عليه وسلم، قالوا: “إن الله قد أنزل على نبيكم بعدكم قرآنا، وقد تعلمناه”. فيمكث السرايا يتعلَّمون ما أنزل الله على نبيهم بعدهم، [ويبعث سرايا أخر، فذلك قوله:(ليتفقهوا في الدين) ، يقول يتعلمون ما أنزل الله على نبيه]، (1) ويعلموا السرايا إذا رجعت

Maksud al-Thabari di sini adalah ayat tersebut adalah saran supaya orang Islam tidak pergi pulang semua, namun terdapat beberapa orang yang berusaha untuk memahami agama atau al-Qur’an yang selanjutnya mereka mengajarkan kepada golongan yang pergi perang tersebut.

Ibn Katsir

وقد يقال: إن هذا بيان لمراده تعالى من نفير الأحياء كلها، وشرذمة من كل قبيلة إن لم يخرجوا كلهم، ليتفقه الخارجون مع الرسول بما ينزل من الوحي عليه، وينذروا قومهم إذا رجعوا إليهم بما كان من أمر العدو، فيجتمع لهم الأمران في هذا: النفير المعين وبعده، صلوات الله وسلامه عليه، تكون الطائفة النافرة من الحي إما للتفقه وإما للجهاد؛ فإنه فرض كفاية على الأحياء.

وقال علي بن أبي طلحة، عن ابن عباس: { وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً } يقول: ما كان المؤمنون لينفروا جميعا ويتركوا النبي صلى الله عليه وسلم وحده، { فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ } يعني: عصبة، يعني: السرايا، ولا يَتَسرَّوا (1) إلا بإذنه، فإذا رجعت السرايا وقد نزل بعدهم قرآن تعلمه القاعدون من النبي صلى الله عليه وسلم، وقالوا: إن الله قد أنزل على نبيكم قرآنا، وقد تعلمناه. فتمكث السرايا يتعلمون ما أنزل الله على نبيهم بعدهم، ويبعث سرايا أخرى، فذلك قوله: { لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ } يقول: ليتعلموا ما أنزل الله على نبيهم، وليعلموا السرايا إذا رجعت إليهم { لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ } .

Ayat tersebut adalah dorongan supaya orang Islam tidak pergi pulang semua, namun terdapat beberapa orang yang berusaha untuk memahami agama atau al-Qur’an yang selanjutnya mereka mengajarkan kepada golongan yang pergi perang tersebut

Jalalain

ولما وبخوا على التخلف وأرسل النبي صلى الله عليه وسلم سرية نفروا جميعاً فنزل : { وَمَا كَانَ المؤمنون لِيَنفِرُواْ } إلى الغزو { كآفَّةً فَلَوْلاَ } فهلا { نَفَرَ مِن كُلِّ فِرْقَةٍ } قبيلة { مِّنْهُمْ طَآئِفَةٌ } جماعة ومكث الباقون { لِّيَتَفَقَّهُواْ } أي الماكثون { فِى الدين وَلِيُنذِرُواْ قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُواْ إِلَيْهِمْ } من الغزو بتعليمهم ما تعلّموه من الأحكام { لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ } عقاب الله بامتثال أمره ونهيه . قال ابن عباس : فهذه مخصوصة بالسرايا ، والتي قبلها بالنهي عن تخلف واحد فيما إذا خرج النبي صلى الله عليه وسلم .

Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang, sedangkan yang lain tetap di tempatnya, untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya

Q.S. al-Ghasyiyah:.

Qurtubi

قوله تعالى : { وَإِلَى السمآء كَيْفَ رُفِعَتْ } أي رُفعت عن الأرض بلا عَمَد . وقيل : رفعت ، فلا ينالها شيء . { وإلى الجبال كَيْفَ نُصِبَتْ } أي كيف نُصبت على الأرض ، بحيث لا تزول؛ وذلك أن الأرض لما دُحِيت مادت ، فأرساهَا بالجبال . كما قال : { وَجَعَلْنَا فِي الأرض رَوَاسِيَ أَن تَمِيدَ بِهِمْ }. { وَإِلَى الأرض كَيْفَ سُطِحَتْ } أي بُسطت ومدّت . وقال أنس : صليت خلف عليّ رضي الله عنه ، فقرأ «كَيفَ خَلَقْتُ» و«رَفَعْتُ» و«نَصَبْتُ» و«سَطَحْتُ» ، بضم التاءات؛ أضاف الضمير إلى الله تعالى

Maksud dari ayat tersebut menurut al-Qurtubi manusia disuruh berpikir bagaimana langit itu ditinggikan, bagaimana gunung itu ditegakkan dan seterusnya. Jadi al-Qurtubi menekankan perintah berpikir untuk mengembangkan ilmu pengetahuan.

Thabari

يقول تعالى ذكره لمُنكري قدرته على ما وصف في هذه السورة من العقاب والنكال الذي أعدّه لأهل عداوته، والنعيم والكرامة التي أعدّها لأهل ولايته: أفلا ينظر هؤلاء المنكرون قُدرة الله على هذه الأمور، إلى الإبل كيف خلقها وسخرها لهم وذَلَّلها وجعلها تحمل حملها باركة، ثم تنهض به، والذي خلق ذلك غير عزيز عليه أن يخلق ما وصف من هذه الأمور في الجنة والنار، يقول جلّ ثناؤه: أفلا ينظرون إلى الإبل فيعتبرون بها، ويعلمون أن القُدرة التي قدر بها على خلقها، لن يُعجزه خلق ما شابهها.

Isi dari tafsir ini secara singkat adalah al-Thabari ingin menggambarkan bahwa Allah berkata kepada orang yang ingkar terhadap kekuasaanNya agar mereka berpikir mengenai sesuatu yang real saja, seperti bagaimana penciptaan unta dan lain sebagainya.

Ibn Katsir

يقول تعالى آمرًا عباده بالنظر في مخلوقاته الدالة على قدرته وعظمته: { أَفَلا يَنْظُرُونَ إِلَى الإبِلِ كَيْفَ خُلِقَتْ } ؟ فإنها خَلق عجيب، وتركيبها غريب، فإنها في غاية القوة والشدة، وهي مع ذلك تلين للحمل الثقيل، وتنقاد للقائد الضعيف، وتؤكل، وينتفع بوبرها، ويشرب لبنها. ونبهوا بذلك لأن العرب غالب دوابهم كانت الإبل، وكان شريح القاضي يقول: اخرجوا بنا حتى ننظر إلى الإبل كيف خلقت، وإلى السماء كيف رفعت؟ أي: كيف رفعها الله، عز وجل، عن الأرض هذا الرفع العظيم، كما قال تعالى: { أَفَلَمْ يَنْظُرُوا إِلَى السَّمَاءِ فَوْقَهُمْ كَيْفَ بَنَيْنَاهَا وَزَيَّنَّاهَا وَمَا لَهَا مِنْ فُرُوجٍ } [ق:6] { وَإِلَى الْجِبَالِ كَيْفَ نُصِبَتْ } أي: جعلت منصوبة قائمة ثابتة راسية لئلا تميد الأرض بأهلها، وجعل فيها ما جعل من المنافع والمعادن. { وَإِلَى الأرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ } ؟ أي: كيف بسطت ومدت ومهدت، فنبَّه البدوي على الاستدلال بما يشاهده من بعيره الذي هو راكب عليه، والسماء التي فوق رأسه، والجبل الذي تجاهه، والأرض التي تحته-على قدرة خالق ذلك وصانعه، وأنه الرب العظيم الخالق المتصرف المالك، وأنه الإله الذي لا يستحق العبادة سواه. وهكذا أقسم “ضِمَام” في سؤاله على رسول الله صلى الله عليه وسلم، كما رواه الإمام أحمد حيث قال: حدثنا هاشم بن القاسم، حدثنا سليمان بن المغيرة، عن ثابت، عن أنس قال: كنا نهينا أن نسأل رسول الله صلى الله عليه وسلم عن شيء، فكان يعجبنا أن يجيء الرجل من أهل البادية العاقل فيسأله ونحن نسمع، فجاء رجل من أهل البادية فقال: يا محمد، إنه أتانا رسولُك فزعَم لنا أنك تَزعُم أن الله أرسلك. قال: “صدق”. قال: فمن خلق السماء؟ قال: “الله”. قال: فمن خلق الأرض؟ قال: “الله”. قال: فمن نصب هذه الجبال وجعل فيها ما جعل؟ قال: “الله”. قال: فبالذي خلق السماء والأرض ونصب هذه الجبال، آللهُ أرسلك؟ قال: “نعم”. قال: وزعم رسولُك أن علينا خمس صلوات في يومنا وليلتنا. قال: “صدق”. قال: فبالذي أرسلك، آلله أمرك بهذا؟

Ibn Katsir menjelaskan bahwa hendaklah manusia itu berpikir tentang kejadian alam semesta yang akan menunjukkan kepada pencipta alam tersebut yaitu Allah.

Jalalain

{ أَفَلاَ يَنظُرُونَ } أي كفار مكة نظر اعتبار { إِلَى الإبل كَيْفَ خُلِقَتْ } .{ وَإِلَى الأرض كَيْفَ سُطِحَتْ } أي بسطت ، فيستدلون بها على قدرة الله تعالى ووحدانيته ، وصدرت بالإِبل لأنهم أشدّ ملابسة لها من غيرها . وقوله «سطحت» ظاهر في أن الأرض سطح ، وعليه علماء الشرع ، لا كرة كما قاله أهل الهيئة وإن لم ينقض ركناً من أركان الشرع .

Apakah orang kafir Makkah tidak memandang dengan pandangan mengambil pelajaran.

Dari berbagai tafsir yang penulis kutip tersebut terdapat beberapa tafsir yang ketika menafsiri ayat yang penulis pilih telah langsung menunjukkan tentang kewajiban menuntut ilmu, namun tidak semua menunjukkan hal itu secara langsung.

Dari berbagai kajian yang penulis lakukan dapat disimpulkan bahwa ayat-ayat yang penulis eksplore di atas menunjukkan kewajiban menuntut ilmu dan mengembangkan pengetahuan. Kata “ilmu” dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Arab ‘ilm yang merupakan kata jadian dari ‘alima yang berarti ‘tahu’ atau ‘mengetahui’. Akar kata ‘a-l-m dalam bahasa Semit mempunyai arti tanda (ayat). Ini menimbulkan kesan bahwa terdapat kaitan antara ‘tahu’ dengan ‘tanda’ dalam bahasa Arab. Oleh karena itu, kata ‘ilm dalam bahasa Arab dapat diartikan sebagai pengetahuan tentang tanda (ayat) atau mengetahui ayat. Adapun yang dimaksudkan dengan ‘tanda’ atau ayat dalam konteks pengetahuan adalah fenomena-fenomena alam semesta dengan segala isinya. Dari sini dapat dirumuskan dalam bahasa Indonesia kata ilmu tersebut diartikan sebagai pengetahuan yang tersusun secara rapi.

Dengan mengembangkan dan menuntut ilmu, manusia akan menjadi makhluk yang mulia dan mempunyai derajat tinggi di hadapan Allah dan manusia yang lainnya. Maka sudah selayaknya jika sebagai umat Islam wajib menuntut ilmu, bahkan cukup banyak ayat dalam al-Qur’an yang dapat diinterpertasi untuk memotivasi umat Islam dalam menuntut ilmu.

  1. Hadits Kewajiban Menuntut Ilmu

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عُفَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ عَنْ يُونُسَ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ قَالَ حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ سَمِعْتُ مُعَاوِيَةَ خَطِيبًا يَقُولُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَاللَّهُ يُعْطِي وَلَنْ تَزَالَ هَذِهِ الْأُمَّةُ قَائِمَةً عَلَى أَمْرِ اللَّهِ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ

ArtinyaBarang siapa yang Allah menghendaki dia baik maka Allah akan memahamkannya dalam masalah agama, dan aku adalah orang yang bersumpah, allah akan memberi dan ketika umat ini tidak akan bergeser untuk mendirikan perintah allah maka orang yang berbeda dengan umat ini tidak akan membahayakannya sehingga datang perkara Allah.

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا زَائِدَةُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ رَجُلٍ يَسْلُكُ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا إِلَّا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقَ الْجَنَّةِ وَمَنْ أَبْطَأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ

ArtinyaTidak ada seorang laki-laki yang berjalan dijalan untuk mencari ilmu kecuali Allah mempermudah jalannya jalannya ke surga, barang siapa yang kendor amalnya nasabnya tidak akan mempercepatnya.

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ

Artinya: Barang siapa yang berjalan di jalan untuk mencari ilmu kecuali Allah mempermudah jalannya jalannya ke surga.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَنْبَأَنَا مَعْمَرٌ عَنْ عَاصِمِ بْنِ أَبِي النَّجُودِ عَنْ زِرِّ بْنِ حُبَيْشٍ قَالَ أَتَيْتُ صَفْوَانَ بْنَ عَسَّالٍ الْمُرَادِيَّ فَقَالَ مَا جَاءَ بِكَ قُلْتُ أُنْبِطُ الْعِلْمَ قَالَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مِنْ خَارِجٍ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ إِلَّا وَضَعَتْ لَهُ الْمَلَائِكَةُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا بِمَا يَصْنَعُ

ArtinyaTidak ada orang yang keluar untuk mencari ilmu kecuali malaikat meletakkan sayapnya kepada orang tersebut karena ridho dengan apa yang diperbuatnya.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حُمَيْدٍ الرَّازِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُعَلَّى حَدَّثَنَا زِيَادُ بْنُ خَيْثَمَةَ عَنْ أَبِي دَاوُدَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَخْبَرَةَ عَنْ سَخْبَرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ كَانَ كَفَّارَةً لِمَا مَضَى قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ ضَعِيفُ الْإِسْنَادِ أَبُو دَاوُدَ يُضَعَّفُ فِي الْحَدِيثِ وَلَا نَعْرِفُ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَخْبَرَةَ كَبِيرَ شَيْءٍ وَلَا لِأَبِيهِ وَاسْمُ أَبِي دَاوُدَ نُفَيْعٌ الْأَعْمَى تَكَلَّمَ فِيهِ قَتَادَةُ وَغَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ

Artinya:  Barang siapa yang mencari ilmu maka ilmu itu akan menjadi tebusan sesuatu yang terdahulu.

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ نَصْرِ بْنِ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ الْهُنَائِيُّ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ أَيُّوبَ السَّخْتِيَانِيِّ عَنْ خَالِدِ بْنِ دُرَيْكٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا لِغَيْرِ اللَّهِ أَوْ أَرَادَ بِهِ غَيْرَ اللَّهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ وَفِي الْبَاب عَنْ جَابِرٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ أَيُّوبَ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ

Artinya:  Barang siapa yang mencari ilmu bukan karena Allah atau menghendaki selain Allah maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya dari neraka.

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا رَوْحُ بْنُ جَنَاحٍ أَبُو سَعْدٍ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقِيهٌ وَاحِدٌ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدٍ

Artinya: Orang alim fiqih satu lebih berat dari pada seribu ahli ibadah menurut setan.

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ سُلَيْمَانَ حَدَّثَنَا كَثِيرُ بْنُ شِنْظِيرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ وَوَاضِعُ الْعِلْمِ عِنْدَ غَيْرِ أَهْلِهِ كَمُقَلِّدِ الْخَنَازِيرِ الْجَوْهَرَ وَاللُّؤْلُؤَ وَالذَّهَبَ

Artinya: Menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap orang muslim, dan meletakkan ilmu pada selain ahlinya seperti halnya mengalungi babi hutan dengan permata, mutiara dan emas.

Orang menuntut ilmu itu merupakan kemauan sendiri. Orang yang menuntut ilmu akan diberi petunjuk oleh Allah. Hanya Allah yang berkuasa untuk memberikan petunjuk kepada seseorang. Jika seseorang tersebut sudah dikehendaki oleh Allah untuk menjadi orang yang baik, maka Allah akan memudahkannya dalam memahami agama,  dan sebaliknya. Namun demikian manusia tidak boleh menyerah dan tidak boleh hanya pasrah tanpa adanya usaha. Perkembangan seseorang tergantung pada pembawaan dan lingkungannya. Pembawaan seseorang baru berkembang karena mendapat pengaruh dari lingkungan.

Hadits yang keduaketiga dan keempat  tersebut pada dasarnya sama yaitu menyatakan tentang keutamaan ilmu dan orang yang mencari ilmu. Mencari ilmu merupakan pekerjaan yang sangat mulia dan sulit. Karena dengan ilmu manusia tidak akan lagi berakhlak seperti binatang. Maka malaikatpun ridho terhadap apa yang diperbuat oleh manusia tersebut.

Hadits yang selanjutnya adalah tentang ilmu merupakan pelebur terhadap amal yang ia perbuat sebelumnya, karena orang yang beramal tanpa didasari ilmu maka amalnya tidak sah. Dan orang yang beramal tanpa ada landasan ilmu, ibarat pesawat yang terbang tanpa landasan.

Orang yang mencari ilmu atau menjalani pendidikan hendaklah berniat karena Allah. Orang yang mencari ilmu dengan niat selain Allah maka Allah akan memberikan siksaan kepadanya. Ilmu merupakan sesuatu yang mulia, dan pada dasarnya semua ilmu adalah milik Allah. Dalam Islam tidak ada dikotomi ilmu, akan tetapi dalam Islam ada pembagian ilmu menjadi mahmudah dan madzmumah.

Hadits yang selanjutnya menerangkan tentang keutamaan orang yang berilmu. Orang yang mempunyai ilmu lebih berat untuk digoda menurut setan daripada ahli ibadah yang jumlahnya seribu. Hadits terakhir yang penulis kemukakan dalam subbab ini adalah hadits mengenai kewajiban mencari ilmu bagi seluruh umat Islam. Sekarang ini umat Islam sudah mengalami ketertinggalan dibandingkan dengan golongan orientalis. Maka dari itu untuk mengejar ketertinggalan tersebut kita sebagai umat Islam harus senantiasa gemar mencari dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

SEKIAN

DALIL AL-QU’AN TENTANG PENDIDIKAN

 

 

Pendidikan Islam sebagai salah satu aspek dari ajaran Islam yang didasarkan pada Al-Qur’an dan Hadist Nabi Muhammad saw. Dari kedua sumber tersebut, para intelektual muslim kemudian mengembangkannya dan mengklasifikannya kedalam dua bagian yaitu: Pertama, akidah untuk ajaran yang berkaitan dengan keimanan; kedua, adalah syariah untuk ajaran yang berkaitan dengan amal nyata (Muhammad Syaltut). Dan sebagai tambahan adalah fisafat sebagai alat bantuk dalam berpikir manusia untuk selalu mengembangkan pengetahuan yang sudah di miliki. Filalsafat tersebut digunakan untuk mengetahui permasalahan yang sedang dihadapi dan bagaimana menyelesaikan masalah tersebut tanpap mengakibatkan masalah yang lebih besar. Tentu saja dalam perkembangan yang dilakukan oleh manusia tidak akan terlepas dari perintah dan larangan agama, karena dalam hal ini agama merupakan sumber yang paling utama dan menduduki kedudukan yang tertinggi yang disusul kemudian adalah filsafat, kemudian ilmu pengetahuan.

Oleh karena pendidikan (formal, nonformal dan informal) termasuk amalan yang nyata dan harus dilakukan, maka pendidikan tercakup dalam bidang syariah. Bila diklasifikasikan lebih lanjut, termasuk dalam sub bidang muamalah. Pengklasifikaksian ini tidak terlepas dari adanya tanggung jawab yang wajib bahwa pendidikan merupakan sebuah kebutuhan yang nantinya akan menyangkut kebutuhan orang banyak (social masyarakat). Dengan demikian maka jelaslah bahwa sebaik-baik orang adalah dia yang mampu memberikan kontribusi pada masyarakat sekitanya. Dan perintah ajarkanlah ilmu walau satu ayat.

 

Dalam Al-Qur’an (Q.S. 31: 12-15) yang artinya: “Dan sungguh, telah Kami Berikan hikmah kepada Luqman, yaitu, “Bersyukurlah kepada Allah! Dan barangsiapa bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya dia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa tidak bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya, Maha Terpuji. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, “Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar. Dan Kami Perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tua-nya. lbunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku tempat kembalimu, maka akan Aku Beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.

 

Ayat ini menerangkan kepada kita bahwa dalam pendidikan yang paling ditekankan adalah pendidikan yang dilakukan oleh orang tua, karena pendidikan ini secara sadar atau tidak sadar merupakan pendidikan yang pertama kali didapatkan oleh seorang anak sebelum mendapat pengaruh dari luar. Dan ayat tersebut menrangkan kepada kita bahwa apabila orang tua menyuruh kita untuk melakukan hal-hal yang dilarang dalam agama, maka kita wajib nenolaknya, akan tetapi dengan perkataan yang baik (wajaadil hum billaty hia akhsan).

Suart tersebut secara terang-terangan menjelaskan kepada kita tentang prinsip-prinsip dasar materi pendidikan Islam yang terdiri atas masalah iman, ibadah, sosial, dan ilmu pengetahuan yang nantinya akan menjadi bekal dalam menjalani kehidupan sebagai tanggung jawab ke-Khalifah-an.

Sebagai bantahan pendapat yang meragukan terhadap adanya aspek pendidikan dalam Al-Qur’an. Abdul Rahman Saleh Abdullah mengemukakan bahwa kata Tarbiyah yang berasal dari kata “Rabb”(mendidik dan memelihara) banyak terdapat dalam Al-Qur’an; demikian pula kata “Ilm” yang demikian banyak dalam Al-Qur’an menunjukkan bahwa dalam Al-Qur’an tidak mengabaikan konsep-konsep yang menunjukkan kepada  pendidikan (Departemen P & K, 1990:291). Hal ini ditegaskan karena dengan pendidikanlah umat manusia mendapatkan ilmu pengetahuannya. Selain itu dengan ilmu pengetahuan yang didapatnya, diharapkan supaya umat islam menjadi lebih beriman dan bertaqwa kepada Allah bukan kakena ikut-ikutan dari agama orang tua, tetapi karena dirinya pribadi.

Sebagai pedoman yang tidak kalah pentingnya, Hadist juga banyak memberikan dasar-dasar bagi pendidikan  Islam. Karena Hadist sebagai pernyataan, pengalaman, takrir dan hal ihwal Nabi Muhammad saw., merupakan sumber ajaran Islam yang kedua sesudah Al-Qur’an.

Sebagai penunjang berkembangnya ilmu pengetahuan, di samping Al-qur’an dan Hadist sebagai sumber atau dasar pendidikan Islam, tentu saja masih memberikan penafsiran dan penjabaran lebih lanjut terhadap Al-Qur’an dan Hadist, berupa ijma’, qiyas, ijtihad, istihsan dan sebagainya yang sering pula dianggap sebagai dasar pendidikan Islam. Akan tetapi, kita konsekuen bahwa dasar adalah tempat berpijak yang paling mendasar, maka dasar pendidikan Islam hanyalah Al-Qur’an dan Hadist Nabi Muhammad saw. Sehingga pandangan para ulama yang berupa berupa ijma’, qiyas, ijtihad, istihsan dan sebagainya dijadikan sebagai sarana untuk memberikan pemahaman sebagai penjelas al-Qur’an dan Hadist tersebut.

Berikut beberapa ayat dan Hadistt yang membahas tentang pendidikan :

  1. QS: As Shafaat: 102

Yang artinya: “Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Isma‘il) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang Diperintahkan (Allah) kepadamu; Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

 

Ayat ini mengajarkan kepada kita tentang makna “metodologi” pendidikan pada anak. Yang mana ayat ini mengisahkan dua hamba Allah (Bapak-Anak), Ibrahim dan putranya Ismail AS terlibat dalam suatu diskusi yang mengagumkan. Bukan substansi dari diskusi mereka yang menjadi perhatian kita. Melainkan approach/cara pendekatan yang dilakukan oleh Ibrahim dalam meyakinkan anaknya terhadap suatu permasalahan yang sangat agung itu.

Kisah tersebut mengajarkan kepada kita bahwa metode “dialogis” dalam mengajarkan anak sangat didukung oleh ajaran Islam. Kesimpulan ini pula menolak anggapan sebagian orang kalau Islam mengajarkan ummatnya otoriter (pemaksaan), khususnya dalam mendidik anak.

 

  1. Ar-Rahman ayat 1-4 (Tentang subyek pendidikan)

Yang artinya: “(Rabb) Yang Maha Pemurah. Yang telab mengajarkan al Qur’an.Dia menciptakan manusia.Mengajarnya pandai berbicara /AI-Bayan”.

Kaitannya ayat ar-Rahman ini dengan Subjek Pendidikan adalah sebagai berikut:

  • Kata ar-Rahman menunjukkan bahwa sifat-sifat pendidik adalah murah hati, penyayang dan lemah lembut, santun dan berakhlak mulia kepada anak didiknya dan siapa saja yang menunjukan profesionalisasi pada Kompetensi Personal
  • Seorang guru hendaknya memiliki kompetensi paedagogis yang baik sebagaimana Allah mengajarkan al-Quran kepada Nabi-NYA.
  • Al-Quran menunjukkan sebagai materi yang diberikan kepada anak didik adalah kebenaran/ilmu dari Allah (Kompetensi Profesional)
  • Keberhasilan pendidik adalah ketika anak didik mampu menerima dan mengembangkan ilmu yang diberikan, sehingga anak didik menjadi generasi yang memiliki kecerdasan spiritual dan kecerdasan intelektual, sebagaimana penjelasan AI-Bayan.

 

  1. Surah Luqman: 13

Artinya: ”Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.

Dari ayat tersebut dapat kita ambil pokok pikiran sebagai berikut:

  • Orang tua wajib memberi pendidikan kepada anak-anaknya. Sebagaiman tugasnya, mulai dari melahirkan sampai akil baligh.
  • Prioritas pertama adalah penanaman akidah dan akhlak. Pendidikan akidah dan akhlak harus diutamakan sebagai kerangka dasar/landasan dalam membentuk pribadi anak yang soleh (Kompetensi Profesional).
  • Dalam mendidik hendaknya menggunakan pendekatan yang bersifat kasih sayang, sesuai makna seruan Lukman kepada anak-anaknya, yaitu “Yaa Bunayyaa” (Wahai anak-anakku), seruan tersebut menyiratkan muatan kasih sayang/sentuhan kelembutan dan kemesraan, tetapi dalam koridor ketegasan dan kedisplinan, bukan berarti mendidik dengan keras. (Kompetensi Personal).

 

  1. Surah al-Kahf ayat 66 (Tentang Pendidik)

Yang artinya: ”Musa berkata kepada Khidhr “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu” (QS. 18: 66)”.

Dari ayat ini dapat diambil beberapa pokok pemikiran sebagai berikut:Kaitan ayat ini dengan aspek pendidikan bahwa seorang pendidik hendaknya:

  • Menuntun anak didiknya. Dalam hal ini menerangkan bahwa peran seorang guru adalah sebagai fasilitator, tutor, tentor, pendamping dan yang lainnya. Peran tersebut dilakukan agar anak didiknya sesuai dengan yang diharapkan oleh bangsa neraga dan agamanya.
  • Memberi tahu kesulitan-kesulitan yang akan dihadapi dalam menuntut ilmu. Hal ini perlu, karena zaman akan selalu berubah seiring berjalananya waktu. Dan kalau kita tidak mengikutinya, maka akan menjadikan anak yang tertinggal.
  • Mengarahkannya untuk tidak mempelajari sesuatu jika sang pendidik mengetahui bahwa potensi anak didiknya tidak sesuai dengan bidang ilmu yang akan dipelajarinya.

 

  1. Surah asy-Syu’ara: 214

Yang artinya: “Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat”( QS. 26: 214).

Ayat ini mengajarkan kepada rasul SAW dan umatnya agar tidak pilih kasih, atau memberi kemudahan kepada keluarga dalam hal pemberian peringatan dan pendidikan. Seorang guru harus memberikannya secara seimbang, tidak membedakan mana yang kaya dan mana yang miskin (menganggap semuanya sama). Guru wajib menegur kepada anak didik siapapun yang melanggar atau tidak sesuai dengan kaidah yang telah diajarkannaaya.

  1. Surah ‘Abasa ayat 1-3

Yang artinya: “Dia (Muhammad ) bermuka masam dan berpaling. Karena telah datang seorang buta kepadanya Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya dari dosa” QS. 80: 1 – 3)

Pesan yang dapat kita ambil adalah:

  • Setiap insan berhak memperoleh pendidikan, tanpa mengenal ras, suku bangsa, agama maupun kondisi pribadi/fisik dan perekonomiannya.
  • Sebagai seorang pendidik harus bijak dalam menghadapi anak didiknya dan tidak membeda-bedakan hanya karena fisik yang tidak sempurna. Misal tingkatkan pula pelayanan pendidikan pada peserta didik yang difabel.

 

  1. Surah al-Ankabut: 19-20

Yang artinya: “Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. Katakanlah: “Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya.Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu (QS 29: 19 – 20).

Dari ayat tersebut di atas (al-Ankabut: 19 – 20) memerintahkan kepada kita untuk:

  • Melakukan perjalanan, dengannya seseorang akan menemukan banyak pelajaran berharga baik melalui ciptaan Allah yang terhampar dan beraneka ragam, maupun dari peninggalan lama yang masih tersisa puing-puingnya. Hal ini mengisyaratkakn kepada kita bahwa pengalaman merupakan kunci sebagai tolok ukur perkembangan dalam setiap perubahan yang dilakukan. Selain itu dari pengalaman yang kita lakukan maupun dari pengalaman orang lain lakukan selayaknya dijadikan sebagai ibrah untuk menuju yang lebih baik.
  • Melakukan pembelajaran, penelitian, dan percobaan (eksperimen) dengan menggunakan akalnya untuk sampai kepada kesimpulan bahwa tidak ada yang kekal di dunia ini, dan bahwa di balik peristiwa dan ciptaan itu, wujud satu kekuatan dan kekuasaan Yang Maha Besar. Pemikiran ini adalah tujuan akhir dari semua yang dikerjakan oleh setiap manusia.

 

  1. Surat al-‘Alaq ayat 1-5)

Yang artinya: Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhan-mu yang Menciptakan. Dia telah Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhan-mulah Yang Maha Mulia. Yang Mengajar (manusia) dengan pena. Dia Mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. 80: 1 – 5).

Ayat diatas dikaitan dengan pendidikan adalah sebagai berikut:

  • Iqra` bisa berarti membaca atau mengkaji. sebagai aktivitas intelektual dalam arti yang luas, guna memperoleh berbagai pemikiran dan pemahaman. Tetapi segala pemikirannya itu tidak boleh lepas dari Aqidah Islam, karena iqra` haruslah dengan bismi rabbika
  • Kata al-qalam adalah simbol transformasi ilmu pengetahuan dan teknologi, nilai dan keterampilan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kata ini merupakan simbol abadi sejak manusia mengenal baca-tulis hingga dewasa ini. Proses transfer budaya dan peradaban tidak akan terjadi tanpa peran penting tradisi tulis–menulis yang dilambangkan dengan al-qalam.

Hubungan agama dan iptek? Secara garis besar, berdasarkan tinjauan ideologi yang mendasari hubungan keduanya, terdapat 3 (tiga) jenis paradigma yaitu:

  • Paradagima sekuler: paradigma yang memandang agama dan iptek adalah terpisah satu sama lain. Sebab, dalam ideologi sekularisme Barat,agama telah dipisahkan dari kehidupan (fashl al-din ‘an al-hayah). Eksistensi agama tidak dinafikan hanya dibatasi perannya.
  • Paradigma sosialis, yaitu paradigma dari ideologi sosialisme yang menafikan eksistensi agama sama sekali. Agama itu tidak ada, dus,tidak ada hubungan dan kaitan apa pun dengan iptek.
  • Paradigma Islam, yaitu paradigma yang memandang bahwa agama adalah dasar dan pengatur kehidupan.

 

  1. Surah At-Taubah ayat 122

Yang artinya: “Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang muKmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapaorang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya”. (QS. 09: 122).

Ayat ini memberi anjuran tegas (tahdid) kepada umat Islam agar ada sebagian dari umat Islam untuk memperdalam agama. Dikatakan juga bahwa yang dimaksud kata tafaqquh fi al-din adalah menjadi seorang yang mendalam ilmunya dan selalu memiliki tanggung jawab dalam pencarian ilmu Allah. Dengan demikian menurut tafsir ini dalam sistem pendidikan Islam tidak dikenal dikhotomi pendidikan.

  1. Surat An-Nahl ayat 125

Yang artinya: “Ajaklah kepada jalan Tuhan mu dengan cara yang bijaksana dan dengan mengajarkan yang baik, dan berdiskusilah dengan mereka secara lebih baik”. (QS. 16: 125)

Ada beberapa pelajaran yang dapat kita petik dari ayat ini bahwa metode yang di lakukan dalam proses pendidikan diantaranya: ceramah dan diskusi.

  1. Surat Al-‘Araf ayat 35

Yang artinya: “Hai anak cucu Adam! Jika datang kepadamu Rasul-rasul sebangsamu yang menceritakan kepadamu ayat-ayat-KU, maka barangsiapa yang bertaqwa dan mengadakan perbaikan, niscaya mereka tidak merasa ketakutan” (QS. 07: 35)

Metode cerita / ceramah ini digunakan oleh Rasulullah untuk menyampaikan perintah-perintah Allah.

  1. Surat Ar-Rahman ayat 47-48

Yang artinya: “Nikmat yang manalagi yang akan kamu dustakan? Kedua surga itu mempunyai serba macam pohon dan buah-buahan”. (QS. 55: 147 – 48).

Dalam surat Ar-Rahman ayat 47-48 tergambarkan bahwa Tanya jawab merupakan salah satu metode yang digunakan dalam pendidikan.

  1. Surah al-Baqarah: 31

Yang artinya: “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman:”Sebutkanlah kepadaKu nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar”. (QS.02: 31)

Proses pendidikan terhadap manusia terjadi pertama kali ketika Allah SWT selesai menciptakan Adam as, lalu Allah SWT mengumpulkan tiga golongan mahluk yang diciptakan-Nya untuk diadakan Proses Belajar Mengajar (PBM). Tiga golongan mahluk ciptaan Allah dimaksud yaitu Jin, Malaikat, dan Manusia (Adam Alaihissalam) sebagai “mahasiswa” nya, sedangkan Allah SWT bertindak sebagai “Maha Guru” nya. Setelah selesai PBM maka Allah SWT mengadakan evaluasi kepada seluruh mahasiswa ( jin, malaikat, dan manusia) dengan cara bertanya dan menyuruh menjelaskan seluruh materi pelajaran yang diberikan, dan ternyata Adam lah (dari golongan manusia) yang berhasil menjadi juara dalam ujian tersebut.

Semoga tulisan ini dapat memberikan manfaat baik berupa pengetahuan ataupun pengalaman yang membangun dalam kehidupan kita. Akhirnya dengan segala kerendahan hati, apabila terdapat kesalahan dari kata-kata maupun maksud yang kurang bener, kami mohon maaf sebesar-besarnya. Wallahu a’lam bissowab

 

Kewajiban Belajar Mengajar dalam Perspektif al-Qur’an Surat al-‘Alaq Ayat 1 – 5

 

Kewajiban Belajar Mengajar dalam Perspektif al-Qur’an Surat al-‘Alaq Ayat 1 – 5 – Kewajiban belajar mengajar merupakan suatu tuntutan bagi manusia yang menginginkan suatu kehidupan yang layak sebagai implementasinya dalam memakmurkan dunia. Manusia yang sudah dibaiat oleh Tuhan sebagai khalifah agar senantiasa menjadi pemimpin dan bisa menjadi kemaslahatan bagi dirinya, orang lain dan alam sekitar. Dalam realitasnya, konsep belajar mengajar memang banyak mengambil dari konsep Barat. Dan tidak ada salahnya selama konsep tersebut baik dan bisa mengangkat harkat dan martabat manusia. Namun, alangkah lebih bijak ketika kita juga tahu bagaimana pandangan al-Qur’an tentang hal tersebut. Dan banyak ayat-ayat dalam al-Qur’an yang bisa kita jadikan landasan dalam praktek mengajar mengajar. Di antaranya adalah dalam wahyu yang pertama diturunkan yakni Surat al-‘Alaq.

Di bawah ini bagaimana tafsir QS. al-‘Alaq tentang Kewajiban belajar mengajar:

Falsafah Dasar Iqra’

Falsafah Dasar Iqra’

Teks ayat:

 

 

Terjemahan

 

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhan-mu yang telah menciptakan. Yang telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhan-mu Yang Maha Mulia, yang telah mengajarkan dengan al-Qalam. Yang telah mengajarkan manusia sesuatu yang belum ia ketahui”
Analisis Kebahasaan

Huruf “ba” pada kalimat “Bismi rabbik” adalah harfu jarr yang memiliki dua artikulasi. Yang pertama sebagai tambahan (zaidah) yang terjemahannya sama dengan tanpa “ba“. Iqra’ bismi rabbika terjemahannya adalah bacalah nama Tuhan-mu. Tampaknya, jika konsep ini yang diikuti, ada beberapa keberatan ilmiah. Apabila yang dimaksud objek bacaan adalah nama Tuhan, tentu saja tidak dapat diterima. Karena, pertama Rasulullah Saw adalah seorang yang hatinya tak pernah berhenti mengingat nama Allah. Kedua, beliau tidak akan menjawab “maa anaa biqarii” ketika pertama kali beliau menerima wahyu di Gua Hira.Ketiga, jika “ba“-nya zaidah sebagai huruf penambah, maka terjadi Tadlyi al-ba(penyia-nyiaan huruf “ba” tanpa makna).

Pendapat kedua menyatakan bahwa objek yang harus dibaca oleh Rasulullah itu al-Qur’an. Karena membaca dalam term al-Qira’ah dalam al-Qur’an selalu digunakan untuk membaca al-Qur’an itu sendiri. Di sisi lain, ada suatu kaidah yang menyatakan bahwa suatu kata dalam susunan redaksi yang tidak disebutkan objeknya, maka arti kata tersebut dan objeknya bersifat umum, meliputi segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh kata tersebut. Maka, dari sini dapat disimpulkan bahwa [1] al-Qira’ah tidak berarti hanya membaca, melainkan termasuk ke dalam arti menyampaikan, menelaah, dan sebagainya. [2] Objek dari kata tersebut mencakup segala yang dapat dijangkau, baik berupa bacaan suci yang bersumber dari Tuhan, maupun bukan bacaan suci, baik ayat-ayat quraniyyat maupun ayat-ayat kauniyyat.

Advertisement

Perintah membaca, menelaah, menyampaikan, meneliti dan sebagainya, dikaitkan dengan keharusan menyebut nama Tuhan (Bismi rabbika). Pengertian ini merupakan syarat mutlak sehingga menuntut si pembaca bukan sekedar melakukan bacaan dengan ikhlas, tetapi juga antara lain dapat memilih bacaan-bacaan yang tidak mengantarkannya kepada hal-hal yang tidak bertentangan dengan nama Allah itu. Mengapa harus dengan kata Rabb, dan tidak dengan kata Allah yang merupakan esensi Tuhan sebagaimana dalam Basmalah. Padahal kata Allah lebih Agung dan lebih Mulia? Karena, pertama, ayat ini merupakan ayat perintah beribadah dan penggunaan kata Rabb yang sesungguhnya adalah perbuatan Tuhan, akan lebih mendorong jiwa si penerima perintah untuk melaksanakannya. Kedua, karena surat ini merupakan surat yang pertama kali diterima oleh Nabi, maka penggunaan kata Rabb dimaksudkan agar Nabi tidak merasa kaget.

Perintah membaca dalam surat ini terulang dua kali, yaitu pada ayat pertama dan pada ayat ketiga. Telah dikemukakan, bahwa perintah membaca pada ayat pertama berkaitan dengan syarat yang harus dipenuhi oleh seseorang ketika membaca. Maka perintah membaca pada ayat ketiga berkaitan dengan manfaat yang diperoleh dari hasil bacaan tersebut. Hal ini dapat dipahami dari ayat selanjutnya (keempat) bahwa dari kerja membaca itu seseorang akan memperoleh ilmu pengetahuan.

‘Allama bil Qalam“, yang dimaksud al-Qalam. Menurut sebagian ulama Tafsir, adalah al-Kitabah, dan penggunaan kata tersebut sebagai kinayah. Tetapi, menurut kebanyakan Mufassirin Kontemporer, al-Qalam adalah segala macam alat tulis menulis dari mulai yang sederhana sampai kepada mesin-mesin tulis dan cetak yang canggih, dan ia bukan merupakan satu-satunya alat atau cara untuk membaca atau memperoleh pengetahuan.
Tafsir Ijmaly 

Perintah membaca merupakan perintah yang paling berharga yang dapat diberikan kepada umat manusia sebagai homo educandum. Pengaitan kata “‘Allama” dengan kata “al-Insan” pada ayat kelima, menunjukkan bahwa manusia adalah makhluk yang harus dididik dan dapat dididik yang antara lain dengan cara membaca. Dan pendidikan adalah jalan yang dapat mengantarkan manusia mencapai derajat kemanusiaannya yang sempurna. Hal ini juga secara korelatif dapat dipahami dari penggalan ayat “khalaqa min ‘alaq” dan “‘allama bil Qalam“. Kedua penggalan ayat tersebut mengisyaratkan bahwa meski manusia diciptakan dari setetes air mani yang sangat hina, jika ia belajar dan berpikir sampai ia memperoleh ilmu pengetahuan, maka ia akan menempati derajat yang tinggi, sebagaimana juga dijelaskan dalam surat al-Mujadalah ayat 11. Oleh karena itu, kiranya benar orang yang mengatakan, bahwa:
Sejarah umat manusia, secara umum dapat dibagi dalam dua fase utama. Yaitu fase sebelum penemuan alat tulis baca dan fase sesudahnya, sekitar lima ribu tahun yang lalu dengan telah ditemukannya tulis baca, peradaban umat manusia berjalan sangat pesat dan cepat. Peradaban yang lahir pasca ditemukannya tulis baca tidak lagi dimulai dari nol. Peradaban yang datang mempelajari peradaban yang lalu dari apa yang ditulis oleh yang lalu dan dapat dibaca oleh yang datang kemudian.

Semoga bermanfaat.

 

KEWAJIBAN BELAJAR-MENGAJAR DALAM AL-QUR’AN

KEWAJIBAN BELAJAR-MENGAJAR DALAM AL-QUR’AN

 

  1. PENDAHULUAN
    1. Latar Belakang

Manusia diciptakan Allah dengan berbagai potensi yang dimilikinya, tentu dengan alasan yang sangat tepat potensi itu harus ada pada diri manusia, sebagaimana sudah diketahui manusia diciptakan untuk menjadi khalifatullah fil ardh. Potensi yang dimiliki manusia tidak ada artinya kalau bukan karena bimbingan dan hidayah Allah yang terhidang di alam ini. Namun manusia tidak pula begitu saja mampu menelan mentah-mentah apa yang dia lihat, kecuali belajar dengan megerahkan segala tenaga yang dia miliki untuk dapat memahami tanda-tanda yang ada dalam kehidupannya. Tidak hanya itu, manusia setelah mengetahui wajib mengajarkan ilmunya agar fungsi kekhalifahan manusia tidak terhenti pada satu masa saja, Dan semua itu sudah diatur oleh Allah SWT.

Menuntut ilmu merupakan kewajiban dan kebutuhan manusia. Tanpa ilmu manusia akan tersesat dari jalan kebenaran. Tanpa ilmu manusia tidak akan mampu merubah suatu peradaban. Bahkan dirinyapun tidak bisa menjadi lebih baik.

  1. Rumusan Masalah
  2. Apa itu yang dimaksud dengan belajar dan mengajar.
  3. Mengapa menuntut ilmu (belajar) sebagai kewajiban.
  4. Kapan proses belajar berlangsung dan sampaikan kapan
  5. Bagaiamana kaitan hadis dengan kewajiban belajar mengajar
  6. Tujuan Pembahasan

Adapun tujuan penulisan ini adalah :

  1. ingin mengetahui apa yang dimaksud dengan belajar dan mengajar
  2. ingin mengetahui mengapa menuntut ilmu itu suatu kewajiban bagi muslim laki-laki maupun perempuan.
  3. Ingin mengetahui kapan proses belajar maupun mengajar dimulai
  4. Ingin menambah wawasan atau pengetahuan mengenai hal ini.
  5. Pengertian Belajar dan Mengajar

Hampir semua ahli telah mencoba merumuskan dan membuat tafsirannya tentang “Belajar”. Seringkali pula perumusan dan tafsiran berbeda satu sama lain. Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman. (learning is defined as the modification or trengthening of behavior through experiencing).

Menurut pengertian diatas, belajar adalah merupakan proses suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengiat, akan tetapi lebih luas daripada itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan, melainkan perubahan kelakuan. Ada juga yang mengatakan bahwa belajar adalah memperoleh pengetahuan, belajar adalah latihan-latihan pembentukan kebiasaan secara otomatis, dan seterusnya.

Sedangkan pengertian mengajar lebih identik kepada proses mengarahkan seseorang agar lebih baik. Didalam ilmu pendidikan islam adalah setiap orang dewasa yang karena kewajiban agamanya bertanggung jawab atas pendidikan dirinya dan orang lain. Atau konsekuensi dari pada pengetahuan yang didapat.

 

 

  1. Alasan menuntut ilmu (belajar).

Menuntut ilmu merupakan kewajiban dan kebutuhan manusia. Tanpa ilmu manusia akan tersesat dari jalan kebenaran. Tanpa ilmu manusia tidak akan mampu merubah suatu peradaban. Bahkan dirinyapun tidak bisa menjadi lebih baik. Karena menuntut ilmu merupakan sesuatu yang sangat penting dan merupakan kewajiban bagi setiap muslim. Dari urian tadi sudah menjadi keseharusan dalam menuntut ilmu.

  1.  Awal Perintah Membaca

Mengingat hal diatas sangat tepat jika wahyu pertama turun kepada nabi SAW mengisyaratkan tentang perintah membaca (menuntut ilmu). Yakni Surat Al-Alaq ayat 1

 “Bacalah dengan (menyebut) nama tuhanmu yang menciptakan.”

Kata Iqra’  terambil dari kata kerja  kara’a yang pada mulanya berarti menghimpun. Apabila kita merangkai huruf kemudian mengucapkan rangkaian tersebut maka kita sudahmenghimpunnya yakni membacanya.[1] Dengan demikinan, realisasi perintah tersebut tidak mengharuskan adanya suatu teks tertulis sebagai objek bacaan, tidak pula harus diucapkan sehingga terdengar oleh orang lain. Karena dalam kamus-kamus ditemukan aneka ragam arti dari kata tersebut adalah bisa menyampaikan, menela’ah, membaca, meneliti, mendalami.[2]

Syekh “Abdul Halim Mahmud (mantan pemimpin tinggi Al-Azhar Mesir) sebagaimana dikutip Quraish Shihab dia menulis dalam bukunya al-Qur’an Fi Syahr al-Qur’an: “ dengan kalimat iqra’ bismi Rabbika, al-Qur’an tidak hanya sekedar menyuruh membaca, tetapi membaca adalah lambang dari segala apa yang dilakukan oleh manusia, baik yang sifatnya aktif maupun pasif. Kalimat tersebut dalam pengertian dan semangatnya ingin menyatakan “bacalah demi Tuhanmu, bergeraklah demi Tuhanmu, bekerjalah demi Tuhanmu” . demikian juga ketika kita berhenti melakukan aktifitas hendaklah didasari padaBismi rabbika sehingga akhirnya ayat itu berarti “jadilah seluruh kehidupanmu, Wujudmu, dalam cara dan tujuanmu, kesemuanya demi karena Allah semata”.[3]

Adapun Asbabun Nuzul ayat ini adalah Dalam hadis sahih riwayat Bukhari dinyatakan bahkan Nabi SAW. datang ke gua Hira’ suatu gua yang terletak di atas sebuah bukit di pinggir kota Mekah untuk berkhalwat beberapa malam. Kemudian sekembali beliau pulang mengambil bekal dari rumah istri beliau, Khadijah, datanglah jibril kepada beliau dan menyuruhnya membaca.
Nabi menjawab: “Aku tidak bisa membaca” Jibril merangkulnya sehingga Nabi merasa sesak nafas. Jibril melepaskannya; sambil berkata: “Bacalah”. Nabi menjawab: “Aku tidak bisa membaca”. Lalu. dirangkulnya lagi dan dilepaskannya sambil berkata: “Bacalah”. Nabi menjawab: “Aku tidak bisa membaca” sehingga Nabi merasa payah, maka Jibril membacakan ayat 1 sampai ayat 5.

 

  1. Peranan Akal dalam proses belajar

Segala potensi yang dimiliki manusia sebagai jalan untuk mengetahui sesuatu baik berupa isyarat yang jelas (tampak) maupun yang tersembunyi yang hanya mampu ditangkap dengan indra yang abstrak merupakan cara Allah mendidik manusia.

Jelaslah  alasan manusia menuntut ilmu (Belajar) tidak luput dari unsur wahyu ilahiyah, maka tidak pantas manusia sebagai penuntut ilmu melepaskan diri dari wahyu Ilahi Sebagai ayat-ayat Qauliyah. Karena petunjuk yang tidak akan ditemui di alam (ayat-ayat kauniyah Allah) hanya dapat ditemukan dalam al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Disini peranan akal sangat mempunyai  otoritas yang sangat tinggi dalam proses belajar yakni menuntut ilmu. Karena akal adalah sebagai alat untuk menuntut ilmu, dan ilmu adalah alat untuk menghilangkan kesulitan manusia, maka didalam islampun memerintahkan manusia untuk menuntut ilmu, bukan saja ilmu agama, tetapi juga ilmu-ilmu lainnya.

  1. Waktu dan derajat atau kedudukan menuntut ilmu (belajar)

Sebagai makhluk yang berakal, umat islam mempertahankan kemuliaannya diperintahkan untuk menuntut ilmu dalam waktu yang tidak terbatas selama hayat dikandung badan. Prinsip belajar selama hidup ini merupakan ajaran islam yang penting. Sabda Rasulullah SAW :

Artinya :

Tuntutan ilmu itu sejak dari ayunan sampai keliang lahat (mulai dari kecil sampai mati). (H.R Ibn.Abd.Bar).

Lebih tegas lagi, islam mewajibkan orang menuntut ilmu melalui sabda Nabi  SAW :

Artinya :

Menuntut ilmu itu adalah kewajiban atas setiap orang islam, laki-laki ataupun perempuan. (H.R. Bukhari dan Muslim).

Sedangkan didalam Al-qur’an meraka yang berilmu dan tidak berilmu itu berbeda dalam pandangan islam.

 

Firman Allah :

Artinnya :

“Katakanlah (ya Muhammad), tidaklah sama orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu! Sesungguhnya yang memilki akal pikiranlah yang dapat menerima pelajaran.” (Q.S. 39 Ar-Zumar 9).

Allah meninggikan derajat orang yang berilmu itu, Firmannya :

Artinya

“…….(Allah)meniggikan derejat orang beriman dan berilmu pengetahuan itu.(Q.S. 58 Al-Mujadalah 11).(orang yang berilmu itu lebih tinggi beberapa derejat dari orang yang tidak berilmu).”

Karena sungguh dalam Islam mereka yang tekun mencari ilmu lebih dihargai daripada mereka yang beribadah sepanjang masa. Kelebihan ahli ilmu, al-‘alim daripada ahli ibadah, al- ‘abid, adalah seperti kelebihan Muhammad atas orang Islam seluruhnya. Di kalangan kaum muslimin hadits ini sangat popular sehingga mereka memandang bahwa mencari ilmu merupakan bagian integral dari ibadah.

Dalam Islam, nilai keutamaan dari pengetahuan keagamaan berikut penyebarannya tidak pernah diragukan lagi. Nabi menjamin bahwa orang yang berjuang dalam rangka menuntut ilmu akan diberikan banyak kemudahan oleh Tuhan menuju surga. Para pengikut atau murid Nabi telah berhasil meneruskan dan menerapkan ajaran tentang semangat menuntut dan mencari ilmu. Motivasi religius ini juga bisa ditemukan dalam tradisi Rihla.Suatu tradisi ulama  yang disebut al-rihla fi talab al-‘ilm ‘ Suatu perjalanan dalam rangka mencari ilmu’adalah bukti sedemikian besarnya rasa keingintahuan dikalangan para ulama.

Rihla, tidak hanya merupakan tradisi ulama, tapi juga merupakan kebutuhan untuk menuntut ilmu dan mencari ilmu yang didorong oleh nilai-nilai religius. Hadits-hadits Nabi membuktikan suatu hubungan tertentu :” Seseorang yang pergi mencari ilmu dijalan Allah hingga ia kembali, ia memeperoleh pahala seperti orang yang berperang menegakkan agama. Para malaikat membentangkan sayap kepadanya dan semua makhluk berdoa untuknya termasuk ikan dan air”.

Islam secara mutlaq mendorong para pengikutnya untuk menuntut ilmu sejauh mungkin, bahkan sampai ke negeri Cina. Nabi menyatakan bahwa jauhnya letak suatu Negara tidaklah menjadi masalah, sebagai ilustrasi unik terhadap kemuliaan nilai ilmu pengetahuan.[4] Siapaun sepakat hadits Nabi yang berbunyi Utlub al ‘ilm walau kana bi al-shin, menekankan betapa pentingnya mencari ilmu lebih-lebih ilmu agama yang dikategorikan Imam Ghozali sebagai fardlu ‘ain.[5]

Disamping Hadits Nabi yang berkenaan dengan al- shin nabi juga menyinggung tentang al-yahud yang mana dikisahkan bahwa Nabi menyuruh sekretarisnya untuk mempelajari kitab al-Yahud sebagai proteksi diri dari penipuan kaum yahudi. Dari kedua hadits tersebut diungkapkan untuk memberi penekananan bahwa terdapat hubungan simbiosis antara ilmu pengetahuan dan dengan kemajuan serta ketahanan peradapan Islam.       Menurut Nabi , tinta para pelajar nilainya setara dengan darah para syuhada’ pada hari pembalasan.

 

  1. Orang-orang yang terpilih dalam proses belajar mengajar

Dalam hal ini, para pelaku dalam proses belajar mengajar, yaitu guru dan murid dipandang sebagai ‘‘ orang-orang terpilih’’ dalam masyarakat yang telah termotivasi secara kuat oleh agama untuk mengembangkan dan mengamalkan ilmu pengetahuan mereka. hal ini sejalan dengan ayat al-Qur’an surat al-Taubah ayat 122 yang artinya berbunyi :

Artinya :

Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya ( Q.S.Al-Taubah: 122)


Penjelasan :
Ada dua versi yang kami temukan yaitu pada tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab dan tafsir Al-Maraghi Karya Ahmad Musthafa Al-Maraghi.
Yang pertama mari kita lihat penjelasan yang kami dapatkan dari tafsir Al-Misbah.
Ayat itu menuntun kaum muslimin untuk membagi tugas dengan menegaskan bahwa “Tidak sepatutnya bagi orang-orang mu’min yang selama ini dianjurkan agar bergegas menuju medan perang pergi semua ke medan perang sehingga tidak tersisa lagi yang melaksanakan tugas yang lain”. Jika memang ada panggilan yang bersifat mobilisasi umum maka mengapa tidak pergi dari setiap golongan, yakni kelompok besar diantara mereka beberapa orang dari golongan itu untuk bersungguh-sungguh memperdalam pengetahuan tentang agama sehingga mereka dapat memperoleh manfaat untuk diri mereka dan orang lain dan juga untuk memberi peringatan kepada kaum merka yang menjadi anggota yang di tugaskan oleh Rasulullah SAW.

Terbaca di atas bahwa yang dimaksud dengan orang yang memperdalam pengetahuan demikian juga yang memberi peringatan adalah mereka yang tinggal bersama Rasulullah SAW. Ini adalah pendapat mayoritas ulama.
Ayat ini mengggaris bawahi terlebih dahulu motivasi bertafaqquh/ memperdalam pengetahuan bagi mereka yang dianjurkan keluar sedang motivasi utama mereka yang berperang bukanlah tafaqquh.

Yang kedua  kita lihat menurut tafsir Al-Maraghi.
Ayat ini menerangkan kelengkapan dari hukum-hukum yang menyangkut perjuangan yakni hukum mencari ilmu dan mendalami agama. Artinya bahwa pendalaman ilmu agama itu merupakan cara berjuang dengan menggunakan hujjah dan penyampaian bukti-bukti dan juga merupakan rukun terpenting dalam menyeru kepada iman dan menegakan sendi-sendi Islam. Karena perjuangan yang menggunakan pedang itu sendiri tidak di syaratkan kecuali untuk jadi benteng dan pagar dari da’wah tersebut agar jangan dipermainkan oleh tangan-tangan ceroboh dari orang-orang kair dan munafik.

Berdasarkan dua penafsiran bahwa kami dari penulis makalah cenderung kepada tafsir Al-Maraghi bahwa pendalaman ilmu agama itu merupakan cara berjuang dengan menggunakan hujjah dan penyampaian bukti-bukti dan juga merupakan rukun terpenting dalam menyeru kepada iman dan menegakan sendi-sendi Islam. Karena perjuangan yang menggunakan pedang itu sendiri tidak di syaratkan kecuali untuk jadi benteng dan pagar dari da’wah tersebut agar jangan dipermainkan oleh tangan-tangan ceroboh dari orang-orang kafir dan munafik. Karena kebaikan menuntut ilmu dan mengajarkannya sama pahalanya disisi Allah dengan jihad. Barang siapa yang memberi contoh kebaikan , kemudian kebaikan itu dicontoh oleh orang lain, maka dia akan mendapat kebaikan yang sama dengan orang yang melakukan tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang melakukannya, begitu juga sebaliknya. Demikian ungkapan yang sementara dianggap dari Rasulullah SAW.

  1. Penutup
  2. Kesimpulan

Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman agar lebih baik. Oleh karena itu proses belajar atau  menuntut ilmu merupakan sesuatu yang sangat penting dan merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang harus benar-benar dilaksanakan, tentunya dalam hal ini ada kaitannya dengan membaca maupun mengamati baik itu yang berbaur Agama maupun ilmu-ilmu umum. Sebagai makhluk yang berakal, umat islam mempertahankan kemuliaannya diperintahkan untuk menuntut ilmu dalam waktu yang tidak terbatas selama hayat masih dikandung badan

  1. Saran

Dari uraian diatas penulis dapat memberikan saran kepada pembaca khususnya untuk penulis sendiri.

  1. Mengingat belajar mengajar adalah suatu keharusann dilakukan oleh seorang muslim dalam rangka memanfaatkan potensi akal yang diberikan Allah SWT maka isilah akal itu dengan pengetahuan Al-Qur’an (Agama) agar bisa tertujunya tujuan insane kamil.
  2. Dengan semakin banyak belajar atau mengkaji dan mendalami ayat-ayat Allah Baik Qauliyah maupun Qaauniayah, akan semakin membuka peluan terciptanya ilmu-ilmu baru dan peradaban baru yang lebih baik.
  3. Mengingat orang yang menuntut ilmu  lalu mengajarkannya memiliki kedudukan yang sama dengan kebaikan orang yang jihad di perang melawan orang-orang kafir. Maka hal ini bisa digunakan sebagai motivasi dalam meraih kehidupan yang lebih baik diakherat kelak.

 

HADITS TENTANG PENDIDIKAN DAN PENGAJARAN

 

 

  1. PENDAHULUAN

 

Pendidikan merupakan kegiatan yang penting dalam kemajuan manusia. Islam mengajarkan umatnya untuk selalu gigih dalam menuntut ilmu seperti yang diperintahkan dalam beberapa ayat Al-Qur’an dan hadist. Kegiatan pendidikan pada dasarnya selalu terkait dua belah pihak, yaitu: pendidik dan peserta didik. Dalam proses belajar mengajar, pendidik memiliki peran utama dalam menentukan kualitas pengajaran yang dilaksanakannya. Yakni memberikan pengetahuan (cognitive), sikap dan nilai (affektif) dan keterampilan (psikomotor) dengan kata lain tugas dan peran pendidik yang utama terletak dibidang pengajaran.

 

Metode mengajar ialah cara yang dipergunakan guru dalam mengadakan hubungan dengan siswa pada saat berlangsungnya pengajaran. Dengan metode ini diharapkan tumbuh berbagai kegiatan belajar siswa sehubungan dengan kegiatan mengajar guru, dengan kata lain terciptalah interaksi edukatif. Dalam interaksi ini guru berperan sebagai penggerak atau pembimbing. Sedangkan siswa berperan sebagai penerima atau yang dibimbing. Proses interaksi ini akan berjalan baik kalau siswa banyak aktif dibandingkan guru. Oleh karena itu, metode mengajar yang baik adalah metode yang menumbuhkan kegiatan belajar siswa.

 

  1. RUMUSAN MASALAH

 

  1. Bagaimana Hadist Anas bin Malik tentang Membuat Mudah, Gembira dan Kompak?
  2. Bagaimana Hadist Aisyah tentang Menyampaikan Perkataan yang Jelas dan Terang?
  3. Bagaimana Hadist Abu Hurairah tentang Metode Cerita (Kisah)?
  4. Bagaimana Hadist Abu Hurairah tentang Metode Tanya Jawab?
  5. Bagaimana Hadist Anas bin Malik tentang Metode Diskusi?
  6. Bagaimana Hadist Abu Hurairah tentang Alat Peraga?

 

III. PEMBAHASAN

 

  1. Hadist Anas bin Malik tentang Membuat Mudah, Gembira dan Kompak

Artinya: Dari Anas bin Malik dari Nabi SAW ”mudahkanlah dan jangan kamu persulit. Gembirakanlah dan jangan kamu membuat lari”. (HR. Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhori al-Ju’fi)[1]

 

Hadist di atas menjelaskan bahwa proses pembelajaran harus dibuat dengan mudah sekaligus menyenangkan agar siswa tidak tertekan secara psikologis dan tidak merasa bosan terhadap suasana di kelas, serta apa yang diajarkan oleh gurunya. Dan suatu pembelajaran juga harus menggunakan metode yang tepat disesuaikan dengan situasi dan kondisi, terutama dengan mempertimbangkan keadaan orang yang akan belajar.[2]

 

Meskipun dalam islam banyak hal yang telah dimudahkan oleh Allah akan tetapi perlu diperhatikan bahwa maksud kemudahan islam bukan berarti kita boleh menyepelekan syari’at islam dalam hal pendidikan, mencari-cari ketergelinciran atau mencari pendapat lemah sebagian ulama agar kita bisa seenaknya, namun kemudahan itu diberikan dengan alasan agar kita selalu melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.[3]

 

  1. Hadist Aisyah tentang Menyampaikan Perkataan yang Jelas dan Terang

Artinya: Dari Aisyah rahimahallah berkata: ”Sesungguhnya perkataan Rasulullah SAW adalah perkataan yang jelas memahamkan setiap orang yang mendengarnya. (HR. Abu Daud Sulaiman ibn al-Asy’as al-Sjastani al-Azdi)[4]

 

Hadist tersebut untuk kita sebagai calon guru agar dalam pengucapan suatu perkataan hendaklah dengan terang dan jelas, supaya orang yang mendengarkan (peserta didik) dapat memahami maksud yang disampaikan. Dan apabila dengan ucapan pertamanya belum menjelaskan kepada murid, ,maka guru itu wajib mengulanginya agar murid tersebut bisa paham dalam pembelajaran yang disampaikan oleh guru.

 

Perkataan yang jelas dan terang akan menjadi salah satu faktor keberhasilan suatu pendidikan, karena jika tidak demikian dikhawatirkan nantinya akan terjadi salah pengertian, ketika terjadi salah pengertian bukan tidak mungkin justru peserta didik akan melenceng dari yang diharapkan. Diharapkan dengan adanya perkataan yang jelas dan terang tersebut anak didik mampu mmenyerap dan memahami apa yang diharapkan oleh pendidik.[5]

 

  1. Hadist Abu Hurairah tentang Metode Cerita (Kisah)

Artinya: Dari Abu Hurairah r.a. sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: ”Ketika seorang laki-laki sedang berjalan-jalan, tiba-tiba ia merasakan sangat haus sekali. Kemudian ia menemukan sumur lalu ia masuk kedalamnya dan minum, kemudian ia keluar (dari sumur) kemudian datang seekor anjing yang menjulur-julurkan lidahnya ia menjilati tanah karena sangat haus, lelaki itu berkata: anjing sangat haus sebagaimana aku, kemudian ia masuk kedalam sumur lagi dan ia memenuhi sepatunya (dengan air) kemudian (ia naik lagi) sambil menggigit sepatunya dan ia memberi minum anjing itu kemudian Allah bersyukur kepadanya dan mengampuninya. Sahabat bertanya: ”Wahai Rasulullah, adakah kita mendapat pahala karena menolong hewan?”, Nabi menjawab: ”Disetiap yang mempunyai limpa hidup ada pahalanya.”(HR. Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhori al-Ju’fi)[6]

 

Dari hadist di atas menerangkan bahwa apabila kita berbuat baik kepada sesama makhluk Allah SWT walaupun perbuatan tersebut hanya sebesar biji jagung, maka perbuatan kita akan mendapat pahala dan ridho Allah SWT. Misalnya memberi minum hewan yang najis.

 

Sehingga dapat dijelaskan bahwa pendidikan metode kisah atau cerita ini dapat menimbulkan kesan mendalam pada jiwa seorang anak didik, sehingga dapat membuka hati nuraninya dan berupaya melakukan hal-hal yang baik dan menjauhkan dari perbuatan yang buruk sebagai dampak dari kisah itu, apalagi penyampaikan kisah-kisah tersebut dilakukan dengan cara menyentuh hati dan perasaan. Al-Qur’an mempergunakan meode cerita untuk seluruh pendidikan dan bimbingan yang mencakup seluruh metodologi pendidikannya, yaitu untuk pendidikan mental, akal dan jasmani serta menaruh jaringan-jaringan yang berlawanan yang terdapat didalam jiwanya itu, pendidikan melalui teladan dan pendidikan melalui nasehat. Oleh karena itu, cerita merupakan kumpulan bimbingan yang snagat baik.[7]

 

  1. Hadist Abu Hurairah tentang Metode Tanya Jawab

Artinya: Dari Abi Hurairah, ia berkata: ada seorang laki-laki datang pada Rasulullah SAW kemudian ia bertanya: ”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku hormati?”. Beliau menjawab Ibumu, ia berkata kemudian siapa?” Beliau menjawab kemudian ibumu, ia berkata kemudian siapa? Beliau menjawab kemudian ibumu, ia berkata kemudian siapa? Beliau menjawab kemudian Bapakmu dan saudara-saudara dekatmu.(HR. Muslim bin al-Hijaj Abu al-Husain al-Qusyairi al-Naisaburi)[8]

 

Hadist di atas menerangkan bahwa suatu ketika ada seseorang laki-laki datang kepada Rasulullah, kemudian bertanya tentang orang-orang yang paling berhak untuk dihormatinya. Kemudian terjadilah dialog antara Rasulullah dan laki-laki tersebut dan Rasulullanpun mengajarinya tentang akhlak terhadap orang tuanya terutama ibunya, maka terjadilah tanya jawab antar keduanya.

 

Metode tanya jawab merupakan metode yang paling tua digunakan disamping metode yang lain, karena metode ini banyak sekali digunakan para Nabi terdahulu. Dan dalam penggunaan metode ini, pengertian dan pemahaman akan terasa lebih mantap. Sehingga segala bentuk kesalahpahaman dan kelemahan daya tangkap terhadap pelajaran dapat dihindari semaksimal mungkin.

 

Metode tanya jawab adalah metode mengajar yang memungkinkan terjadinya komunikasi langsung yang bersifat Two Wag Traffic, sebab pada saat yang sama terjadi dialog antara guru dengan siswa, dalam komunikasi ini terlihat adanya timbal balik secara langsung antara guru dengan siswa. Metode ini bertujuan untuk mengetahui sampai sejauh mana materi pelajaran yang telah dikuasai oleh siswa, untuk merangsang siswa berfikir, dan memberi kesempatan pada siswa untuk mengajukan maslah yang belum paham.[9]

 

  1. Hadist Anas bin Malik tentang Metode Diskusi

Artinya: Dari Anas bin Malik ra, ia berkata: Rasulullah telah bersabda: tolonglah saudaramu yang dzalim maupun yang didhalimi. Mereka bertanya: wahai Rasulullah, bagaimana menolong orang dzalim?, Rasulullah menjawab tahanlah (hentikan) dia dan kembalikan dari kedzaliman, karena sesungguhnya itu merupakan pertolongan kepadanya.(HR. Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhori al-Ju’fi)[10]

 

Hadist ini menjelaskan bahwa Rasulullah SAW menganjurkan kepada kita untuk menolong orang yang dzalim dan yang didzalimi. Anas berkata ia telah menolong orang yang didzalimi, kemudian ia berkata kepada Rasulullah bagaimana cara menolong orang yang dzalim? Rasul pun menjawab untuk menghentikannya dan mengembalikannya dari kedzaliman. Diskusi terdapat pada permasalahan bagaimana cara menghentikan orang dzalim tersebut dan mengembalikan dia dari kedzalimannya.[11]

 

Diskusi pada dasarnya tukar menukar informasi, pendapat dan unsur-unsur penaglaman, secara teratur dengan maksud untuk mendapat pengertian bersama yang lebih jelas dan lebih teliti tentang sesuatu, atau untuk mempersiapkan dan merampungkan keputusan bersama. Oleh karena itu diskusi bukan debat atau perang mulut. Dalam diskusi tiap orang diharapkan memberikan smbangan sehingga seluruh kelompok kembali dengan paham yang dibina bersama.[12]

 

  1. Hadist Abu Hurairah tentang Alat Peraga

Artinya: ”Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda : ” Aku akan bersama orang-orang yang menyantuni anak yatim di surga akan seperti ini (Rasulullah menunjukkan dua jari, jari telunjuk dan tengah yang saling menempel)”.(HR. Muslim bin al-Hijaj Abu al-Husain al-Qusyairi al-Naisaburi)[13]

 

Hadits ini memang tidak secara eksplisit menerangkan tentang penggunaan alat peraga dalam metode pengajaran akan tetapi secara implisit Nabi Muhammad SAW memberikan contoh tentang penggunaan alat peraga dalam memberikan penjelasan dengan cara menunjukkan kedua jari Beliau sebagai perumpamaan. Dari hadits ini kita mendapati bahwa dalam memahami konsep yang abstrak, kita membutuhkan suatu media yang kongkrit agar pengetahuan menjadi mudah dipahami.

 

Alat peraga merupakan salah satu komponen penentu efektivitas belajar. Alat peraga mengubah materi ajar yang abstrak menjadi kongkrit dan realistik. Penyediaan alat peraga merupakan bagian dari pemenuhan kebutuhan belajar sesuai dengan tipe belajar siswa. Pembelajaran menggunakan alat peraga berarti mengoptimalkan fungsi seluruh panca indera siswa untuk meningkatkan efektivitas belajar siswa dengan cara mendengar, melihat, meraba dan menggunakan pikirannya secara logis dan realistis. Ada beragam jenis alat peraga pembelajaran, mulai dari benda aslinya, tiruannya, yang sederhana sampai yang canggih, diberikan di dalam kelas atau luar kelas. Bisa juga berupa bidang dua dimensi (gambar), bidang tiga dimensi (ruang), animasi/flash (gerak), video (rekaman atau simulasi). Teknologi telah mengubah harimau yang ganas yang tidak mungkin dibawa dalam kelas bisa tampak di dalam kelas dalam habitat kehidupan yang sesungguhnya. [14]

https://www.google.co.id/search?sclient=psy-ab&site=&source=hp&btnG=Search&q=dalil+belajar+mengajar

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s